Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan yang serius di Indonesia. Selama ini, penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut kerap dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa DBD kini menjadi ancaman nyata bagi seluruh kelompok usia, termasuk orang dewasa.
Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5-14 tahun. Kelompok ini menyumbang 41 persen dari total kematian akibat DBD pada 2025. Meski demikian, ancaman DBD tidak berhenti pada kelompok usia tersebut. Dalam lima tahun terakhir, kasus DBD justru paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15-44 tahun, yakni mencapai 42 persen dari total kasus pada 2025.
Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi mengatakan bahwa masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu. "Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera," ujar Hartono.
Menurut Hartono, perlindungan terhadap anak tidak dapat hanya mengandalkan satu langkah pencegahan. Upaya seperti menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting dilakukan. "Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD. Karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan untuk buah hati mereka," katanya.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto Koesnoe mengingatkan bahwa orang dewasa juga berisiko mengalami infeksi dengue dengan komplikasi serius. "DBD sering kali identik dengan penyakit pada anak, padahal orang dewasa juga dapat terinfeksi dan mengalami komplikasi serius," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa risiko komplikasi meningkat pada individu yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan bahwa beban penyakit dengue di Indonesia terus bertambah dan membutuhkan upaya pencegahan yang lebih kuat. "Rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa kita belum bisa berpuas diri dan tidak boleh lengah," ujar Andreas.