Media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, tetapi banyak orang tidak menyadari dampaknya pada kesehatan mental dan cara kerja otak. Berhenti menggunakan media sosial selama 30 hari dapat membawa perubahan nyata, mulai dari meningkatnya fokus hingga menurunnya kecemasan.
Menurut direktur medis di Detox California, Michael S. Valdez, ketika paparan media sosial berkurang, otak memiliki lebih banyak ruang untuk memproses pengalaman sehari-hari. Hal ini mendorong keterlibatan pada aktivitas nyata serta hubungan sosial yang lebih bermakna. Psikoterapis sekaligus penulis The Mental Strength Playbook, Amy Morin, menyebut media sosial bekerja mirip mesin judi, di mana otak melepaskan dopamin saat mendapatkan 'hadiah'.
Perubahan yang terjadi saat seseorang berhenti menggunakan media sosial selama 30 hari antara lain konsentrasi meningkat, tidur lebih berkualitas, kecemasan berkurang, koneksi kehidupan nyata lebih kuat, waktu luang bertambah, kembali menekuni hobi, dan lebih positif terhadap diri sendiri. Misalnya, penelitian yang dikutip dari Buoy Health menunjukkan bahwa notifikasi terus-menerus dan perpindahan antar aplikasi dapat mengganggu fokus serta membuat otak bekerja lebih keras.
Setelah 30 hari, dorongan untuk terus membuka media sosial biasanya mulai berkurang karena otak telah menyesuaikan diri dengan tingkat stimulasi yang baru. Detoks media sosial selama 30 hari bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan dengan teknologi dan memiliki dampak positif pada kesehatan mental secara keseluruhan.