Memiliki gelar sarjana tidak lagi cukup untuk bersaing di dunia kerja. Perusahaan semakin mencari tenaga kerja yang memiliki keterampilan spesifik dengan bukti kompetensi yang terverifikasi, terutama di bidang digital yang terus berkembang mengikuti kebutuhan industri.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano, mengatakan bahwa kebutuhan industri terhadap keterampilan baru terus meningkat. "Data menunjukkan kebutuhan akan skill baru semakin meningkat. Banyak perusahaan sekarang lebih fokus pada skill dan bukti kompetensi yang terverifikasi, bukan hanya sekadar gelar," kata Irwan.
Program ITB Continuing Education (ICE) Microcredential dirancang sebagai sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta meningkatkan kompetensi sekaligus memperoleh sertifikasi yang diakui industri. ITB membangun program tersebut melalui empat pilar utama, yaitu materi pembelajaran yang disusun berdasarkan kebutuhan industri, proses belajar yang fleksibel, sertifikat yang kredibel, dan kemampuan untuk diakumulasikan sebagai bagian dari pembelajaran berkelanjutan.
Antusiasme terhadap program tersebut sudah terlihat bahkan sebelum peluncuran resminya. Jumlah pendaftar telah mencapai ratusan orang, dengan peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa, profesional, dosen, tenaga pendidik, hingga masyarakat umum.
Ke depan, ITB menargetkan menghadirkan sekitar 38 skema sertifikasi yang terintegrasi dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sehingga lulusan memiliki pengakuan kompetensi yang lebih kuat sesuai kebutuhan dunia kerja. Industri juga menilai langkah ITB tersebut sejalan dengan perubahan pola rekrutmen tenaga kerja, di mana perusahaan kini tidak lagi hanya melihat ijazah, tetapi juga kemampuan pekerja untuk terus memperbarui kompetensinya melalui berbagai sertifikasi.