Belakangan ini, masyarakat dihebohkan dengan wabah Hantavirus yang melanda kapal pesiar MV Hondius di Samudera Atlantik. Namun, perlu diketahui bahwa jenis Hantavirus yang mewabah di kapal pesiar tersebut berbeda dengan yang ditemukan di Indonesia. Di Indonesia, jenis Hantavirus yang umum menular pada manusia adalah Seoul Virus (SEOV) yang menyebabkan hemorrhagic fever renal syndrome (HFRS).
Menurut Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Andi Saguni, virus Hanta yang ada di Indonesia adalah jenis HFRS, yang berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius. Kemenkes telah mencatat sebanyak 23 kasus positif Hantavirus selama periode tahun 2024 hingga pekan ke-16 2026.
HFRS disebabkan oleh beberapa jenis Hantavirus, termasuk virus Puumala, Dobrava, Hantaan, dan Seoul. Gejala HFRS umumnya berkembang 1-2 minggu setelah paparan virus melalui hewan pengerat. Gejala awal HFRS yang umum muncul di antaranya demam, sakit kepala, sakit punggung dan perut, mual-muntah, penglihatan kabur, wajah dan mata memerah, dan ruam.
Penularan HFRS terjadi melalui sekresi (kotoran dan air liur) hewan pengerat, khususnya varian Seoul yang sering ditemukan di Indonesia, yang dibawa oleh tikus got cokelat. Seseorang bisa tertular jika menghirup virus yang tersebar dalam bentuk aerosol, menyentuh urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi, atau menyentuh benda yang terkontaminasi sekresi tikus terinfeksi.
HFRS dipastikan tidak menular antar-manusia, sehingga tidak perlu khawatir tentang penularan dari sesama manusia. Namun, perlu diwaspadai bahwa HFRS dapat menyebabkan gejala berat, seperti tekanan darah rendah, syok akut, kebocoran pembuluh darah, dan gagal ginjal akut. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan pencegahan terhadap HFRS, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar hewan pengerat.