Baru-baru ini, World Health Organization (WHO) mengonfirmasi kemunculan virus jenis Andes dalam wabah di kapal pesiar MV Hondius di kawasan Atlantik Selatan. Hingga kini, terdapat delapan kasus yang dilaporkan, termasuk tiga kematian. Dari jumlah tersebut, enam kasus telah dipastikan positif terinfeksi Hantavirus jenis Andes melalui tes PCR.
Virus Andes merupakan salah satu jenis dari Hantavirus yang dapat menular antar-manusia. Berbeda dari sebagian besar jenis Hantavirus lainnya, Andes diketahui dapat menular dari manusia ke manusia. Mengutip dari CDC, virus Andes merupakan satu-satunya jenis Hantavirus yang sejauh ini terbukti bisa memicu penularan antar manusia.
Virus Andes banyak ditemukan di wilayah Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chili. Sebagian besar Hantavirus umumnya menular melalui tikus liar, urine, air liur, atau kotorannya. Namun, virus Andes memiliki karakter berbeda karena dapat berpindah antar-manusia dalam kondisi tertentu. Meski demikian, para ahli menegaskan penularannya tidak semudah Covid-19, campak, atau influenza.
Penularan virus Andes biasanya terjadi dalam kontak yang sangat dekat dan berlangsung lama. Beberapa penyebaran virus Andes yang dapat terjadi antara lain melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau urin, air liur, atau kotorannya, menyentuh benda atau permukaan yang terkontaminasi virus, lalu menyentuh mulut, hidung, atau mata, serta melalui kontak dekat dengan orang yang sakit akibat virus Andes.
Virus Andes dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu gangguan pernapasan serius yang dapat berkembang cepat dan berujung fatal. Tingkat kematian akibat penyakit ini dilaporkan berkisar 20 hingga 40 persen, tergantung kondisi pasien dan kecepatan penanganan medis. Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain demam, nyeri otot, sakit kepala, pusing, panas dingin, mual, muntah, hingga nyeri perut.
Hingga kini, belum ada vaksin maupun obat antivirus khusus untuk Hantavirus. Penanganan masih berfokus pada perawatan intensif dan penanganan gejala. Para ahli juga mengingatkan bahwa hasil PCR negatif sesaat setelah terpapar belum tentu berarti seseorang aman dari infeksi. Hal ini karena virus dapat memiliki masa inkubasi cukup panjang.