Irak mengutuk serangan gabungan militer Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi ke wilayahnya, yang menargetkan kelompok bersenjata pro-Iran. Serangan ini sebagai respons atas gempuran drone kelompok milisi menargetkan kilang minyak Saudi. Dewan Keamanan Nasional Irak mengecam serangan tersebut dan mengumumkan serangkaian langkah keamanan untuk mencegah wilayah negaranya digunakan untuk mengancam negara-negara tetangga.
Dewan Keamanan Nasional Irak menggelar pertemuan darurat untuk membahas situasi keamanan nasional setelah serangan AS-Arab Saudi yang menewaskan dan melukai beberapa warganya. Hasilnya, menyetujui rencana keamanan komprehensif untuk memperkuat kendali, mencegah pelanggaran kedaulatan, serta memastikan tidak ada kelompok atau aktor yang menggunakan wilayah Irak untuk mengancam negara-negara tetangga.
Serangan AS-Arab Saudi berlangsung saat pemerintah Irak sedang berhubungan dengan pihak-pihak terkait untuk memverifikasi dan mengatasi kekhawatiran AS dan Arab Saudi atas serangan terhadap kilang minyak. Dewan Keamanan Nasional Irak juga menginstruksikan Kementerian Luar Negeri untuk menegakkan hak-hak hukum Irak berdasarkan hukum internasional dan Piagam PBB dengan mendokumentasikan serangan tersebut serta mengambil langkah-langkah diplomatik dan hukum.
Irak menegaskan kembali penolakan pemerintah terhadap semua tindakan permusuhan, terlepas dari pihak yang bertanggung jawab atau pembenarannya. Selain itu, Irak menegaskan kembali komitmennya untuk melaksanakan perjanjian keamanan yang mengatur penarikan pasukan koalisi internasional melawan ISIS pada akhir September serta menyelesaikan langkah-langkah untuk memastikan larangan senjata dan penggunaannya tetap berada di tangan pemerintah secara eksklusif.