Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan pemerintah untuk memantau kondisi taman nasional dan kawasan hutan yang terkena kebakaran di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Permintaan ini disampaikan seiring dengan meluasnya kebakaran hutan yang mendekati permukiman warga, yang dianggap bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap keselamatan masyarakat.
Puan menyatakan, “Ini bukan lagi persoalan lingkungan, tetapi sudah menjadi ancaman terhadap keselamatan warga, aset, kesehatan, dan keberlangsungan aktivitas ekonomi setempat.” Kencangnya angin di sekitar lokasi kebakaran mempercepat penyebaran api ke lahan gambut. Hingga tanggal 7 Agustus, luas lahan yang terdampak kebakaran di Palangkaraya mencapai 162,49 hektare. Kondisi kemarau dan potensi fenomena El Nino diperkirakan akan meningkatkan risiko kebakaran di Kalimantan Tengah.
Menurut Puan, kejadian di Palangkaraya menunjukkan bahwa kebakaran hutan tidak bisa dipandang hanya sebagai masalah lingkungan. Ketika api mulai mengancam tempat tinggal masyarakat, situasi menjadi lebih serius. Ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan yang terbakar, mengingat kebakaran dapat menyebabkan kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan.
Puan menegaskan, “Pemerintah daerah harus menyiapkan layanan kesehatan dan perlindungan khusus bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan apabila kualitas udara memburuk.” Ia juga menyoroti bahwa kebakaran dapat mengganggu aktivitas masyarakat, sehingga hal ini harus menjadi perhatian dalam penanganan kebakaran hutan.
Lebih lanjut, Puan mengingatkan bahwa kebakaran di lahan gambut memerlukan penanganan khusus karena api dapat menjalar ke lapisan bawah tanah dan muncul di titik lain. “Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kebakaran hutan membutuhkan pendekatan sistematis dan berkelanjutan, bukan sekadar operasi pemadaman ketika api sudah membesar,” ujarnya.
Oleh karena itu, Puan mendorong pemerintah untuk memperkuat strategi pencegahan kebakaran hutan, terutama di wilayah yang rentan. “Termasuk pemetaan potensi penjalaran api yang harus diterjemahkan menjadi tindakan konkret di lapangan. Dengan sistem seperti itu, sumber daya dapat dikerahkan lebih awal sehingga api dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran besar,” tambahnya.