Kimpul, umbi-umbian lokal, mendadak viral di media sosial menjadi pembahasan warganet. Fenomena ini bermula dari pemilik akun TikTok yang membuat konten memasak berbagai hidangan modern dan mengganti bahannya dengan kimpul. Menurut ahli gizi dari Universitas Airlangga, kimpul memiliki kandungan gizi besar dan dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif pengganti beras atau singkong.
Lailatul Muniroh, ahli gizi sekaligus dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa kimpul memiliki potensi gizi yang tinggi karena kandungan serat dan karakteristik pati yang baik. Namun, kimpul belum dapat mengungguli nasi terkait pengolahan, kepraktisan, penerimaan, hingga kebiasaan makan masyarakat Indonesia.
Kimpul dapat diolah menjadi berbagai makanan dengan metode dikukus atau direbus untuk kemudian dikonsumsi langsung. Selain itu, kimpul dapat pula dijadikan tepung yang berguna untuk membuat beragam makanan, seperti cookies, biskuit, brownies, cake, bolu, pancake, dan lainnya. Dari tepung kimpul, dapat lahir makanan olahan seperti keripik, stik, atau juga jika dikombinasikan dengan sumber protein maka dapat menjadi bubur, MP-ASI, hingga biskuit fortifikasi.
Menurut Lailatul, tantangan diversifikasi pangan kimpul bukan pada ketersediaannya, tetapi cara mengubah kebiasaan preferensi konsumsi masyarakat yang sudah terbiasa makan nasi. Selain itu, kimpul juga perlu pengolahan yang tepat, termasuk untuk mengurangi rasa gatal. Untuk aspek penerimaan oleh konsumen, ia menilai butuh strategi menarik untuk diterima kalangan Gen Milenial hingga Gen Alpha.
Langkah konkret dari berbagai pihak meliputi pemerintah, akademisi, maupun masyarakat dalam memanfaatkan momentum ini pun diperlukan. "Kuncinya dengan mengubah viralitas menjadi kebiasan, seperti peran pemerintah untuk menjamin produksi, distribusi, harga, dan memasukkan pangan lokal dalam program pangan. Kemudian dari Akademisi yang dapat melakukan penelitian sehingga mampu menyediakan bukti gizi dan keamanan serta mengembangkan produk yang sehat dan praktis," ujar Lailatul.