Studi yang dilakukan oleh Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) menemukan bahwa dari 8.077 sampel makanan kemasan yang dianalisis, lebih dari 60 persen masuk kategori nutri-Level D. Ini berarti bahwa banyak makanan kemasan yang terbukti tinggi gula, garam, dan lemak.
Hasil studi ini didapatkan dari analisis sampel di berbagai kota besar, termasuk DKI Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar. Studi dilakukan dengan pengujian model profil gizi (nutrient profile models/NPM) bersama Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) di Universitas Airlangga.
Peneliti membandingkan hasil temuannya dengan penilaian nutri-level, yang merupakan kebijakan baru pengelompokan makanan kemasan hingga siap saji berdasarkan level A, B, C, dan D. Pengelompokan dilihat dari kandungan gula, garam, dan lemak di dalam makanan. Level A dikategorikan paling sehat, sementara level D sebaliknya.
Health Economics Research Associate CISDI, Muhammad Zulfiqar Firdaus, mengatakan bahwa peredaran makanan kemasan yang tidak sehat dapat mendorong risiko penyakit tidak menular, termasuk obesitas. "Temuan ini menegaskan masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan pangan yang telah didominasi produk tinggi gula, garam, dan lemak. Ini bukan lagi soal edukasi individu, tapi soal desain sistem yang perlu diperbaiki," ujarnya.
CISDI sendiri menilai, sebagian besar produk makanan kemasan yang masuk kategori C sebenarnya telah melampaui batas gula, garam, dan lemak yang aman. Hanya saja, nutri-level kategori C masih dianggap relatif aman oleh konsumen. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.