Mendengkur sering dianggap sebagai kebiasaan tidur yang mengganggu pasangan, namun jika terjadi terus-menerus dan disertai henti napas saat tidur, kondisi ini bisa menjadi tanda gangguan kesehatan yang serius. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Rony Marethianto Santoso, mengingatkan bahwa kebiasaan mendengkur akibat obstructive sleep apnea (OSA) dapat meningkatkan risiko stroke secara signifikan.
Menurut Rony, risiko stroke pada penderita kondisi ini tiga kali lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak mengalaminya. Ia menjelaskan bahwa tidak semua orang yang mendengkur mengalami obstructive sleep apnea, namun dengkuran yang keras, terjadi hampir setiap malam, dan disertai jeda napas saat tidur merupakan tanda yang perlu diwaspadai.
Selain itu, penderita OSA juga kerap mengalami daytime sleepiness, yakni rasa kantuk berlebihan pada siang hari meski merasa telah tidur cukup. Rony menjelaskan bahwa jika seseorang mengalami kantuk berlebihan pada siang hari, padahal malam merasa tidurnya biasa saja, maka ada sesuatu yang terjadi saat tidur.
Obstructive sleep apnea terjadi ketika saluran napas berulang kali menyempit atau tertutup selama tidur, menyebabkan pasokan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak, berkurang secara berulang. Akibatnya, tubuh mengalami stres berulang setiap malam, yang dapat memicu peningkatan tekanan darah, merusak pembuluh darah, serta meningkatkan risiko terbentuknya sumbatan.
Rony menegaskan bahwa mendengkur bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi risiko stroke. Risiko akan semakin tinggi jika disertai hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, maupun riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Ia menyarankan masyarakat, terutama yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, untuk rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.