Penyakit autoimun dapat menyerang siapa saja, tetapi perempuan terbukti lebih rentan dibanding laki-laki. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, prevalensi autoimun diperkirakan berada di kisaran 3-5 persen, dan sekitar 80 persen penderitanya adalah perempuan.
Menurut studi yang dilakukan oleh Vanessa L. Kronzer et al., perempuan memiliki risiko penyakit autoimun hingga empat kali lebih tinggi ketimbang laki-laki. Para peneliti menjelaskan bahwa ada banyak faktor yang diduga berperan, mulai dari hormon seks, kromosom X, microchimerism, faktor lingkungan, hingga mikrobioma.
Salah satu dugaan kuat adalah perbedaan jumlah dan kualitas antibodi dalam darah. Perempuan umumnya memiliki kadar antibodi yang lebih tinggi daripada laki-laki. Adapun antibodi erat kaitannya dengan sebagian besar penyakit autoimun.
Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Nyoman Kertia, mengatakan bahwa penyakit autoimun memang dipengaruhi faktor genetik. Namun, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti faktor lingkungan, polusi udara, pola makan buruk, hingga stres.
Stres menjadi faktor dominan penyebab autoimun. Nyoman Kertia menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga pemicu utama yang bisa memperburuk kondisi penderita autoimun, yaitu kelelahan, stres, dan paparan sinar matahari berlebihan.
Adapun jika seseorang sudah didiagnosis autoimun, pengobatan medis saja tidak cukup. Pengelolaan gaya hidup dan dukungan psikososial juga sangat penting. Prof. Ronny Rachman Noor dari IPB menyarankan pasien untuk rutin berkonsultasi dengan dokter reumatologi dan imunologi agar terapi bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.