Sebagian orang percaya bahwa ASI berwarna kuning lebih sehat daripada ASI berwarna putih. Namun, apakah benar demikian? Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Naomi Esthernita Fauzia Dewanto menjelaskan bahwa warna ASI dapat berubah secara alami.
Salah satu penyebab perubahan warna ASI adalah kandungan beta karoten dari makanan tertentu, seperti wortel atau labu, yang bisa membuat ASI tampak lebih kekuningan. "Yang secara ilmiah membuat kuning itu beta karoten yang tinggi," ujar Naomi.
ASI yang biasanya tampak lebih kuning dan kental adalah kolostrum, yakni ASI pertama yang keluar pada tiga hingga lima hari awal setelah persalinan. Kolostrum mengandung imunoglobulin atau zat kekebalan tubuh dalam jumlah tinggi. Namun, setelah fase tersebut, ASI akan berubah menjadi ASI transisi lalu ASI matur yang biasanya tampak lebih putih dan encer.
Dalam satu sesi menyusui pun, ASI bisa berubah. ASI awal atau foremilk cenderung lebih encer, sedangkan ASI akhir atau hindmilk biasanya lebih kental karena kandungan lemaknya lebih tinggi. "ASI itu dinamis. Komposisinya berubah inter dan intra individual," ujarnya.
Naomi mengatakan ASI bukan hanya berisi nutrisi, tetapi juga berbagai zat bioaktif seperti lactoferrin, human milk oligosaccharide (HMO), probiotik, hingga hormon pertumbuhan yang membantu mendukung daya tahan tubuh dan tumbuh kembang bayi. Namun, anggapan bahwa ASI berwarna kuning lebih sehat membuat ibu berupaya agar memiliki ASI berwarna kuning.
Akan tetapi Naomi menegaskan warna bukan ukuran utama kualitas ASI. Menurutnya, ibu tidak perlu sengaja mengejar warna ASI agar tetap kuning. "Yang dicari bukan warna kuningnya, tetapi nutrisinya," katanya. Ibu lebih disarankan menjaga pola makan bergizi seimbang, cukup istirahat, cukup cairan, dan kondisi mental yang baik selama menyusui.