Belakangan ini, perasan daun kelor disebut-sebut bisa membuat seseorang merasa teler, melayang, atau seperti mabuk setelah diminum. Hal ini menarik perhatian karena daun kelor selama ini lebih dikenal sebagai tanaman herbal bernutrisi, bukan sebagai bahan yang memberi efek seperti zat psikoaktif.
Sebagian orang mengaku merasa pusing, lemas, mengantuk, atau tubuh terasa ringan setelah mengonsumsinya, terutama dalam bentuk perasan yang pekat. Lantas, benarkah daun kelor memang memiliki efek seperti itu? Sejumlah penelitian memang menemukan daun kelor mengandung berbagai senyawa bioaktif yang dapat memengaruhi tubuh dalam kondisi tertentu.
Ekstrak daun kelor diketahui positif mengandung alkaloid, yang merupakan kelompok senyawa bioaktif pada berbagai tanaman yang dapat memengaruhi sistem saraf, denyut jantung, hingga tekanan darah. Selain itu, daun kelor juga mengandung flavonoid, tannin, saponin, dan senyawa fenolik yang memiliki efek biologis terhadap tubuh, terutama bila dikonsumsi dalam bentuk ekstrak pekat atau dosis besar.
Sensasi 'teler' yang dirasakan oleh sebagian orang kemungkinan lebih berkaitan dengan respons tubuh terhadap senyawa tersebut, seperti penurunan tekanan darah, gula darah yang turun, efek rileks atau sedatif ringan, atau respons tubuh terhadap kandungan bioaktif daun kelor. Oleh karena itu, reaksi setiap orang bisa berbeda tergantung kondisi tubuh, dosis, dan cara konsumsinya.
Jika setelah mengonsumsi perasan atau ekstrak daun kelor muncul gejala berat seperti linglung, muntah, jantung berdebar, sesak, atau penurunan kesadaran, kondisi tersebut tidak dianggap normal dan sebaiknya segera diperiksakan ke tenaga medis. Pada akhirnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya jenis tanamannya, tetapi juga jumlah konsumsi, bentuk olahan, dan kondisi tubuh masing-masing.