Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie, menyatakan bahwa anggapan bahwa anak yang belajar multibahasa dapat menyebabkan keterlambatan bicara atau speech delay adalah mitos. Menurut penelitian sains, anak yang fasih multibahasa justru lebih pintar secara kognitif. "Anak yang bisa multibahasa justru lebih pintar secara kognitif," kata Stella.
Penelitian sains juga menunjukkan bahwa anak yang bisa multibahasa memiliki probabilitas yang lebih rendah untuk mengalami alzhaimer di usia lanjut. Bukti sains ini ditemukan oleh Janet Worker dari University of British Columbia dan Viorica Marian dari Northwestern University. Stella menilai bahwa anak-anak Indonesia paling bisa memanfaatkan kemampuan multibahasa karena Indonesia adalah negara kedua dengan keragaman bahasa terbanyak di dunia.
Stella memberikan tips agar orangtua bisa memanfaatkan superpower pada anak dalam berbahasa dengan cara latihan bercerita dalam bahasa daerah setiap hari. Cerita tersebut bisa diambil dari apa yang dilakukan dan dipelajari anak-anak ketika di sekolah dengan bahasa daerah yang digunakan sehari-hari. Dengan demikian, anak-anak akan lebih pintar dan memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik.