Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa operasi helikopter water bombing untuk memadamkan kebakaran hutan di lereng curam Gunung Bromo terus dioptimalkan. Hal ini dilakukan mengingat lokasi tersebut sulit dijangkau oleh tim pemadam kebakaran darat. "Ada tiga helikopter yang sudah beroperasi dari dua hari lalu, mohon doanya supaya cuaca tetap baik sehingga api bisa dipadamkan, terutama di lereng yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan darat," ujarnya saat berada di Gunung Bromo pada hari Minggu.
Menurut Menhut, target pelaksanaan water bombing pada hari ini adalah sebanyak 30 kali, dan hingga saat ini sudah dilaksanakan sebanyak 17 kali. Namun, kelancaran pemadaman dari udara sangat tergantung pada kondisi cuaca, terutama faktor hembusan angin yang dapat menghambat proses pemadaman. Oleh karena itu, dia meminta dukungan dari masyarakat agar upaya pemadaman kebakaran di kawasan Gunung Bromo dapat berjalan dengan maksimal.
Raja Juli juga menambahkan bahwa tim gabungan tetap melakukan pemadaman dari jalur darat. Selain itu, petugas di lapangan telah membuat sekat bakar sepanjang enam kilometer untuk mencegah meluasnya titik api. "Kejadian kemarin (meluasnya kebakaran di Bromo) karena faktor kelerengan dan hembusan angin yang sangat tinggi akhirnya membuat api loncat," jelasnya. Untuk mempercepat pemadaman, telah dibentuk incident commander yang bertujuan untuk mengkoordinasikan semua kebutuhan dan tantangan di lokasi kebakaran, sehingga penanganan dapat berjalan lebih terstruktur.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan pemadaman kebakaran dapat dilakukan secara lebih efektif dan cepat. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau seiring dengan upaya yang dilakukan oleh tim di lapangan.