Nasional

Pakar Sarankan Pendekatan Sains untuk Cegah Kebakaran Gambut

Selasa, 25 Agustus 2026, 13:54 WIB 59 views 2 menit baca
Pakar Dorong Pencegahan Kebakaran Gambut Berbasis Sains dan Verifikasi
Pakar Dorong Pencegahan Kebakaran Gambut Berbasis Sains dan Verifikasi
Bagikan:

JAKARTA - Pencegahan kebakaran hutan dan lahan di ekosistem gambut memerlukan strategi komprehensif yang mempertimbangkan berbagai faktor teknis dan nonteknis. Setiap insiden kebakaran harus diverifikasi secara objektif sebelum mengaitkannya dengan pihak tertentu atau menilai dampak ekonomi bagi perusahaan.

Guru Besar IPB University, Prof. Budi Indra Setiawan, menjelaskan bahwa kebakaran gambut tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor. Secara teknis, kebakaran terjadi ketika terdapat sumber panas, bahan bakar, dan oksigen, terutama saat kondisi gambut mengering akibat musim kemarau. "Kebakaran gambut merupakan persoalan yang kompleks. Penurunan muka air tanah, cuaca kering, berkurangnya kelembapan gambut, banyaknya bahan bakar di permukaan, kecepatan angin, serta sumber api dapat saling berinteraksi dan meningkatkan risiko kebakaran," ungkap Budi.

Menurut Budi, gambut yang kehilangan kelembapan akan lebih mudah terbakar. Api dapat merambat di bawah permukaan dan bertahan lama, sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan hanya melalui pemadaman dari permukaan. Oleh karena itu, pencegahan teknis harus dilakukan dengan menjaga muka air tanah, mengelola kanal, menyediakan embung, serta memantau kelembapan gambut. Pemantauan cuaca dan titik panas juga perlu dilakukan secara terpadu menggunakan citra satelit dan teknologi lainnya.

Selain faktor teknis, Prof. Budi menekankan bahwa pencegahan kebakaran juga dipengaruhi oleh aspek nonteknis, seperti perilaku manusia, kebiasaan membuka lahan, dan konflik tenurial. Untuk itu, patroli dan pemadaman harus disertai dengan edukasi dan pemberdayaan masyarakat, serta penyediaan teknologi yang ramah lingkungan.

Ahli tanah, Dr. Basuki Sumawinata, menambahkan bahwa setiap klaim mengenai keuntungan perusahaan dari kebakaran harus diuji melalui verifikasi lapangan. "Keberadaan titik api di wilayah perizinan belum cukup untuk menyimpulkan penyebab dan pelaku kebakaran. Pemeriksaan mendalam diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang terlibat," jelas Basuki.

Basuki juga menekankan pentingnya membedakan antara lokasi kebakaran, penyebabnya, dan pihak yang bertanggung jawab. "Kesimpulan tidak boleh dibuat hanya berdasarkan satu informasi," tegasnya. Ia menambahkan bahwa perusahaan kehutanan tidak mungkin sengaja membakar tanaman yang telah dirawat selama bertahun-tahun, karena hal tersebut dapat merugikan mereka secara ekonomi.

Verifikasi idealnya melibatkan pemerintah, aparat berwenang, dan masyarakat setempat. Data satelit dan informasi lainnya harus dianalisis bersama untuk memastikan akurasi informasi yang disampaikan kepada publik. Kedua pakar sepakat bahwa keberhasilan pencegahan kebakaran gambut bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan akademisi. Pencegahan harus dilakukan sepanjang tahun melalui pengelolaan tata air dan deteksi dini.

Dengan pendekatan kolaboratif ini, diharapkan risiko kebakaran dapat diminimalkan, serta penanganan setiap kejadian dilakukan secara adil dan transparan, tanpa mengandalkan asumsi yang belum terverifikasi.

A

Penulis

Agus Wigati

Penulis di Jagad Info

Sumber: jpnn.com jpnn.com

Berita Terkait