Senior Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Caroline Rusli, mengungkapkan bahwa meskipun valuasi sejumlah emiten di pasar saham Indonesia saat ini cukup menarik, aliran dana asing belum menunjukkan tanda-tanda kembali secara signifikan. Hal ini disebabkan oleh tingkat kepercayaan investor yang masih rendah terhadap kebijakan domestik dan kurangnya kejelasan katalis jangka pendek.
“Indonesia saat ini berada dalam fase selective value. Strategi defensif yang disertai kemampuan dalam mengidentifikasi saham dan sektor unggulan melalui pendekatan bottom-up menjadi sangat penting,” jelas Caroline dalam pernyataannya di Jakarta pada Selasa, 16 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa kondisi pasar global saat ini menunjukkan perbedaan yang signifikan antarwilayah, mata uang, dan kelas aset. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, hanya pasar tertentu yang mampu bertahan dari tekanan eksternal.
Caroline juga menjelaskan bahwa dengan likuiditas global yang tidak lagi selonggar beberapa tahun lalu, pasar saham yang berpotensi menunjukkan kinerja unggul adalah yang memiliki fondasi pertumbuhan struktural yang kuat serta kemampuan untuk menghasilkan laba secara berkelanjutan. Dalam kategori ini, Asia Utara menjadi salah satu kawasan yang menonjol karena menawarkan prospek yang lebih menarik dibandingkan banyak pasar berkembang lainnya.
Keberhasilan kawasan ini tidak hanya didorong oleh valuasi, tetapi juga karena posisinya yang strategis dalam perkembangan teknologi global. Asia Utara mendapatkan keuntungan dari ekspansi kecerdasan buatan (AI), perkembangan industri semikonduktor, dan meningkatnya belanja modal teknologi di seluruh dunia. Faktor-faktor ini menjadi pendorong utama yang memperkuat prospek pertumbuhan kawasan tersebut.
Di sisi lain, perusahaan penyedia infrastruktur digital besar seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft terus meningkatkan proyeksi investasi mereka. Revisi belanja modal yang sering dilakukan mencerminkan optimisme terhadap kebutuhan komputasi dan infrastruktur digital di masa depan. Diperkirakan, gelombang investasi ini akan lebih dahulu mengalir ke rantai pasok teknologi di Asia, khususnya pada sektor semikonduktor, komponen elektronik, material berteknologi tinggi, dan infrastruktur energi pendukung.
Caroline berpendapat bahwa kekuatan pasar Asia saat ini tidak hanya bergantung pada valuasi yang relatif murah, tetapi juga pada prospek pertumbuhan laba yang didukung oleh katalis struktural yang kuat dan berjangka panjang. Kombinasi antara momentum teknologi, peningkatan investasi global, serta fundamental korporasi yang solid menjadi alasan mengapa pasar Asia dapat menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Hal ini juga tercermin dalam performa pasar saham Asia sepanjang tahun 2026 yang tetap positif meskipun ada dinamika dan volatilitas di pasar global.