Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah memulai proses pembaruan buku pelajaran SD hingga SMA di Indonesia. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengatakan bahwa proses ini telah berjalan sejak lama dan bukan baru dimulai setelah arahan dari Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Toni, proses pembaruan buku telah mencapai sekitar 50 persen dan dengan adanya arahan dari Presiden Prabowo Subianto, langkah pembaruan dapat semakin cepat. Ia juga menegaskan bahwa proses pembaruan buku ini tidak hanya bertumpu pada aspek fisik, tetapi juga memperkuat substansi agar selaras dengan kebijakan nasional.
Toni menjelaskan bahwa proses pembaruan buku melibatkan evaluasi identifikasi materi yang perlu diperbaiki, penyempurnaan substansi, penelaahan, hingga pengendalian mutu sebelum nantinya diterapkan di sekolah. Selain itu, kualitas penyajian buku juga diperhatikan, mulai dari aspek keterbacaan, ukuran huruf, ilustrasi, desain, hingga kualitas hasil cetak.
Presiden Prabowo Subianto telah menekankan pentingnya memperbarui buku pelajaran siswa SD hingga SMA di Indonesia, karena tulisan dalam buku cetak pelajaran siswa sangat kecil dan bahannya mudah rusak. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mengecek buku pelajaran satu per satu dan menemukan bahwa ada yang bahannya mudah rusak dan tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya harus membaca dengan sangat dekat.