Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meresmikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) baru yang menghubungkan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu dengan nama 'Pasanggrahan Pancarasa'. Nama ini mengandung makna filosofis yang menekankan pentingnya memanfaatkan lima indra manusia secara bijaksana dan tulus.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa nama Pancarasa melambangkan lima indra yang harus digunakan dengan penuh kesadaran, yaitu mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk menghirup, lidah untuk berbicara, dan hati yang ikhlas. "Pasanggrahan itu tempat berkumpul. Pancarasa artinya kita punya lima rasa," ungkapnya saat acara pembukaan di Gedung Sate, Bandung, pada hari Senin.
Meskipun RTH ini dibuka untuk umum, Dedi menekankan bahwa perbaikan lingkungan tidak hanya bergantung pada mentalitas pejabat, tetapi juga memerlukan kesadaran disiplin dari masyarakat. Ia menyerukan agar masyarakat juga berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan di seluruh Jawa Barat.
Dedi mengungkapkan temuan mengejutkan dari timnya terkait penumpukan sampah yang menghalangi saluran air di pusat Kota Bandung. "Di depan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, ada saluran air yang sampahnya baru diangkat setelah 32 tahun," jelasnya, menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan.
Proyek penataan Gedung Sate dimulai pada pertengahan April 2026 dan direncanakan selesai pada pertengahan Agustus 2026, dengan total biaya mencapai Rp15 miliar. Proyek ini bertujuan untuk menyatukan halaman Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu, serta menciptakan jalan baru yang mengelilingi area tersebut, meskipun beberapa pohon harus dikorbankan dalam prosesnya.
Revitalisasi ini juga berdampak pada Prasasti Sapta Taruna, yang merupakan simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum, yang dipindahkan dari lokasi semula di tengah halaman depan Gedung Sate ke bagian belakang dekat pintu masuk Museum Gedung Sate.