JAKARTA - Pengamat politik Ubedilah Badrun menilai bahwa pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, aktivis, dan pengamat sebagai Londo Ireng adalah sebuah klaim yang menyesatkan dan memiliki motif negatif. Menurut Ubed, istilah Londo Ireng, yang berarti pengkhianat negara, tidak relevan ketika disematkan kepada individu yang bekerja di bidang profesional berbasis keilmuan.
Ubed menjelaskan bahwa makna substantif dari Londo Ireng sangat keliru jika diterapkan pada jurnalis, aktivis, dan pengamat. Ia menekankan bahwa pelabelan tersebut dapat menimbulkan stigma negatif terhadap kelompok-kelompok tersebut. Dalam pandangannya, setiap narasi yang dihasilkan oleh penguasa biasanya mengandung motif tertentu, dan pernyataan Prabowo dapat diartikan sebagai upaya untuk melakukan kontrol atau represi verbal terhadap jurnalis dan aktivis.
Presiden Prabowo sebelumnya mengungkapkan bahwa masih ada Londo Ireng di Indonesia yang menyamar sebagai jurnalis atau anggota LSM. Pernyataan tersebut disampaikan saat acara Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center. Dalam sambutannya, Prabowo menyoroti media yang dianggapnya sering mencari kesalahan pemerintah, meskipun banyak perbaikan yang telah dilakukan, seperti pembangunan 67 ribu sekolah.
Prabowo menegaskan bahwa meskipun Indonesia adalah negara demokrasi yang terbuka terhadap kritik, ia merasa ada individu yang masih setia kepada bangsa lain, yang ia sebut sebagai Londo Ireng. Ia juga menambahkan bahwa orang-orang ini kini mengenakan identitas berbeda, seperti jurnalis atau pengamat.
Dengan kritik yang disampaikan oleh Ubedilah Badrun, isu ini diperkirakan akan terus berkembang, mengingat dampak dari pernyataan tersebut terhadap hubungan antara pemerintah dan media.