KABARBURSA.COM – Sepanjang pekan dari Senin, 8 Juni 2026 hingga Jumat, 12 Juni 2026, sepuluh emiten mengalami penurunan harga yang tajam di pasar reguler. Semua saham tersebut mencatatkan return mingguan negatif yang sangat merugikan bagi pemegang aset, dengan penurunan nilai berkisar antara 18 persen hingga 38 persen. Investor institusi mulai membatasi transaksi pada sektor yang dianggap berisiko tinggi, sementara likuiditas perdagangan harian menunjukkan penurunan signifikan.
Selain tiga emiten utama, terdapat beberapa saham lainnya yang juga mencatatkan penurunan harga yang cukup signifikan. Saham APLI menempati posisi keempat dengan penurunan harga mencapai 25,44 persen, terpuruk hingga level Rp252 per lembar. Posisi kelima diisi oleh saham NZIA yang mengalami koreksi sebesar 23,04 persen, dengan harga terendah mencapai Rp177 per lembar. Emiten teknologi WGSH berada di urutan keenam dengan penurunan nilai sebesar 19,86 persen, menutup pekan pada harga Rp113 per lembar, dipicu oleh sentimen negatif di industri digital.
Tiga emiten berikutnya yang juga mengalami penurunan signifikan adalah WEHA, CBPE, dan INAI. Saham WEHA anjlok sebesar 19,83 persen ke harga Rp97 per lembar, sementara CBPE mencatatkan penurunan sebesar 19,75 persen. Saham INAI mengalami penurunan 19,50 persen, terdepresiasi ke level Rp128 per lembar. Daftar sepuluh besar ditutup oleh saham GPSO yang mengalami penurunan sebesar 18,84 persen.
Fokus utama jatuh pada saham PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk (FLMC) yang memimpin daftar penurunan terdalam. Emiten di sektor tekstil nonwoven ini mencatatkan penurunan harga yang konsisten sejak awal pekan, menutup pekan dengan penurunan sebesar 7,07 persen ke level Rp92 per lembar dan akumulasi penurunan mencapai 38,26 persen. Kapitalisasi pasar FLMC kini menyusut menjadi Rp71,88 miliar, dengan tekanan jual yang masif tanpa adanya perlawanan beli dari pemegang saham retail.
Di posisi kedua, PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) mengalami penurunan harga yang signifikan, mencatatkan akumulasi penurunan sebesar 34,09 persen, dengan harga terakhir stagnan di Rp116 per lembar dan kapitalisasi pasar tersisa Rp484,30 miliar. Sementara itu, emiten tambang batu bara PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) berada di peringkat ketiga dengan penurunan harga mencapai 32,00 persen, tertekan oleh sentimen negatif komoditas global. Saham COAL terakhir diperdagangkan di level Rp34 per lembar, dengan kapitalisasi pasar yang kini menyusut menjadi Rp212,50 miliar.
Dengan kondisi pasar yang tidak menentu ini, para investor diharapkan untuk terus memantau perkembangan selanjutnya dan mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi situasi yang berisiko tinggi ini.