Usia senja tidak menjadi hambatan bagi Taruno Tanoyo untuk mewujudkan impian bersujud di hadapan Baitullah. Pria kelahiran 8 Desember 1941 asal Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, ini baru saja tiba di Makkah setelah menempuh perjalanan panjang dari Madinah.
Taruno bersama istrinya, Sumarni, tergabung dalam kelompok terbang (kloter) perdana YIA 1. Meskipun perjalanan panjang, tidak tampak sedikit pun gurat kelelahan di wajahnya. Jalan panjang menuju Tanah Suci Makkah diukir lewat kesabaran finansial yang patut menjadi teladan bagi generasi muda.
Mengabdikan diri sebagai abdi dalem Pura Pakualaman sejak usia 24 tahun, penghasilannya yang terbatas tidak pernah menyurutkan niatnya untuk berhaji. "Nabung buat haji, tiga bulan sekali, kadang sehari Rp10.000, pernah Rp5.000," papar Taruno merinci strategi keuangannya selama 10 tahun.
Demi menggenapi sisa biaya pelunasan, keluarga sederhana ini pun harus mengorbankan aset paling berharga di kampung halaman mereka. Belasan ekor kambing yang selama ini menjadi sumber kehidupan sehari-hari akhirnya dilepas demi menebus rindu kepada Tanah Suci. "Kemarin kambingnya banyak, dijual empat belas ekor buat haji dan tambahan jaga-jaga," tambah sang istri mengamini perjuangan suaminya.
Aktivitas menggembala belasan kambing itu rupanya membawa berkah tersembunyi bagi kekuatan tulang dan sendi sang kakek. Perjuangan Taruno Tanoyo menuju Baitullah menjadi inspirasi bagi banyak orang, membuktikan bahwa usia tidak menjadi hambatan untuk mewujudkan impian.