Presiden Prabowo Subianto mengarahkan anggotanya untuk mengambil tindakan dalam menghadapi potensi dampak kemarau panjang yang mungkin terjadi bersamaan dengan fenomena El Nino. Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (28/7), Prabowo menekankan pentingnya menjaga ketersediaan air serta mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa BMKG akan memperkuat dukungan untuk menghadapi musim kemarau yang bertepatan dengan El Nino tahun ini. Faisal menjelaskan bahwa langkah ini akan dilakukan melalui upaya menjaga ketersediaan air di waduk serta melaksanakan operasi modifikasi cuaca. “Ada dua, yaitu terkait dengan ketersediaan air melalui waduk-waduk, pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan sebagainya,” ujarnya.
Faisal juga mengungkapkan bahwa enam provinsi akan menjadi fokus utama dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Operasi ini akan dilakukan secara berkala untuk menjaga kelembapan lahan gambut agar tidak mudah terbakar, serta membantu pengisian air di berbagai waduk di Indonesia.
Kerja sama lintas kementerian dan lembaga juga akan dilakukan untuk memastikan ketersediaan air bagi pembangkit listrik tenaga air, irigasi, dan kebutuhan air bersih. “BMKG bekerja sama dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, dan juga dengan swasta untuk pengisian waduk. Kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, irigasi, dan air bersih,” tambah Faisal.
Langkah-langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mencegah kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. Pendekatan ini menjadi penyempurnaan dari penanganan sebelumnya yang lebih berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi. “Sehingga sekarang kita lihat bahwa untuk kebakaran hutan dan lahan relatif lebih dapat dikendalikan dibanding sebelum 2015,” tuturnya.