Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menegaskan pentingnya sikap terbuka dan jujur dalam melihat berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, Indonesia tidak boleh lagi menutup-nutupi kenyataan dengan kata-kata manis, melainkan harus berani menghadapi fakta yang ada. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Senin (23/6/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menilai budaya berbicara yang terlalu diplomatis kerap membuat berbagai persoalan mendasar bangsa tidak terselesaikan secara tuntas. Ia menekankan bahwa Indonesia harus berani menghadapi kenyataan dan tidak lagi membiarkan penyimpangan-penyimpangan yang telah terjadi selama ini. "Kita tidak perlu pura-pura, kita tidak perlu bicara manis-manis karena itu memang sering bangsa Indonesia suka bicara yang manis-manis di depan. Kita kadang-kadang tidak mau bicara apa adanya, tapi saya kira sudah saatnya kita bicara apa adanya," katanya.
Prabowo mengungkapkan, setelah memimpin pemerintahan dan melihat langsung berbagai data serta fakta yang ada, dirinya menemukan banyak penyimpangan yang selama ini terjadi dan dibiarkan berlangsung. Ia menyerukan agar Indonesia harus berani menghadapi kenyataan dan tidak lagi menutup-nutupi kenyataan dengan kata-kata manis. Dengan demikian, diharapkan Indonesia dapat mengatasi berbagai persoalan bangsa dan memulai babak baru dalam pembangunan nasional.