PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) telah melaksanakan uji coba cofiring tahap II di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Banko Barat yang memiliki kapasitas 3x10 MW. Uji coba ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dan mendukung implementasi dekarbonisasi.
Pada tahap kedua ini, PTBA meningkatkan penggunaan biomassa dibandingkan dengan uji coba sebelumnya yang dilakukan pada September 2025. Dalam pelaksanaan terbaru, perusahaan memanfaatkan wood pellet dari Kaliandra Merah sebesar 2 persen dan biomassa campuran dari tanaman pulai, akasia, dan puspa sebesar 3 persen. Sebelumnya, pada Uji Coba Tahap I, biomassa hasil land clearing yang digunakan masing-masing hanya sebesar 1 persen.
Ferry Fadri Al Ilham, Kepala Departemen Pengembangan Pertambangan PTBA, menyatakan bahwa pengujian dilakukan dengan parameter yang sama seperti tahap pertama, tetapi dengan jenis dan volume biomassa yang lebih besar. Ia menambahkan, "Uji coba ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PTBA untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi pendamping batu bara. Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi dalam pengembangan implementasi cofiring ke depan."
Ferry juga mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian uji coba berlangsung lancar tanpa memerlukan modifikasi terhadap konstruksi maupun sistem utama pembangkit yang telah beroperasi. Hal serupa juga disampaikan oleh Zulkurniadi, Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu (PT BEST), yang menjelaskan bahwa penerapan cofiring tidak mengubah sistem operasional PLTU yang saat ini berjalan.
Keandalan operasional PLTU Banko Barat didukung oleh penggunaan boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB). Teknologi ini memastikan performa pembangkit tetap terjaga meskipun biomassa memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan batu bara. Pasokan biomassa Kaliandra Merah dalam program ini berasal dari kerja sama PTBA dengan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVYK), yang telah berlangsung sejak Januari 2024 melalui pengembangan Kebun Energi, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan wood pellet.
Guru Besar Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Yogyakarta, Mohammad Nurcholis, menjelaskan bahwa Kaliandra Merah memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida dan menghasilkan biomassa berkualitas tinggi. Tanaman ini memiliki nilai kalor di atas 4.300 kilokalori per kilogram, sehingga dapat mendukung proses pembakaran tanpa mengurangi kualitas energi yang dihasilkan. Selain itu, Kaliandra Merah juga diproyeksikan sebagai sumber pasokan biomassa berkelanjutan karena termasuk jenis yang cepat tumbuh dan mampu tumbuh kembali setelah dipanen tanpa memerlukan penanaman ulang.
Eko Prayitno, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PTBA, menekankan pentingnya sinergi antara perusahaan, akademisi, dan pelaku industri dalam transformasi PTBA menuju perusahaan energi berkelanjutan. Ia menegaskan, "Langkah ini merupakan bukti nyata komitmen Perseroan dalam mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi emisi karbon, dan mempercepat transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih."