KABARBURSA.COM – Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia mulai mereda setelah mengalami pelemahan nilai tukar rupiah dan koreksi signifikan pada Indeks Saham Gabungan (IHSG). Dalam laporan ekuitas bertajuk "Worst is Over" yang diterbitkan pada 12 Juni 2026, Research Team Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menyatakan bahwa penguatan rupiah menjadi salah satu faktor penting dalam pemulihan ini. Rupiah yang sebelumnya melemah hingga mencapai Rp18.200 per dolar AS, kini menunjukkan perbaikan dengan ditutup pada posisi Rp17.865 per dolar AS pada hari Jumat, 12 Juni 2026.
Prasetya menjelaskan bahwa penguatan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 9 Juni 2026. Ia menambahkan, "Kekuatan rupiah berpotensi meningkat apabila kebijakan pertambangan baru di bawah Danantara mampu menghilangkan praktik under-invoicing dan meningkatkan aliran devisa dolar AS ke Indonesia." Dari sisi anggaran negara, pengeluaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang lebih rendah serta rasionalisasi koperasi juga diharapkan dapat mendukung stabilitas mata uang domestik. Prasetya juga mencatat bahwa sejak 20 Mei, aliran dana asing masuk bersih sebesar Rp287 miliar pada 12 Juni, yang diharapkan memberikan sentimen positif terhadap rupiah.
Mengenai valuasi IHSG, Prasetya menyoroti bahwa kenaikan tajam IHSG sebesar 7,6 persen pada 9 Juni 2026 terjadi karena valuasi pasar yang telah mencapai area sangat murah. Ia menjelaskan bahwa penguatan ini didorong oleh rencana buyback saham BUMN yang dicanangkan Danantara. Saat ini, IHSG diperdagangkan pada valuasi sekitar 8,8 kali forward price to earnings ratio (P/E) satu tahun ke depan, yang 11 persen di bawah level minus dua standar deviasi historis dan 36 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir. "Penurunan IHSG dari puncak ke titik terendah sebesar 41 persen dalam 4,6 bulan bahkan melampaui seluruh siklus pasar bearish akibat krisis kepercayaan yang pernah tercatat," tambahnya.
Data dari Samuel Sekuritas menunjukkan bahwa koreksi IHSG sebelumnya hanya mencapai 23,9 persen pada 2013, 25,4 persen pada 2015, dan sekitar 37,7 persen saat pandemi Covid-19. Angka-angka tersebut lebih ringan dibandingkan Krisis Keuangan Global yang mencapai -60,7 persen. Prasetya menilai bahwa IHSG telah mencerminkan skenario setara krisis yang bahkan lebih buruk dibandingkan kondisi pasar saat ini. Ia menyatakan, "Jika pola historis kembali terulang, potensi kenaikan masih sangat besar." Dalam empat siklus bearish sebelumnya, IHSG rata-rata mampu naik 16,5 persen dalam tiga bulan setelah mencapai titik terendah, 25,3 persen dalam enam bulan, dan melonjak 58,5 persen dalam 12 bulan berikutnya.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, juga melaporkan bahwa IHSG pada pekan ini, periode 8-12 Juni 2026, ditutup meningkat sebesar 7,38 persen, mencapai level 6.007,656 dari posisi 5.594,765 pada pekan sebelumnya.
Faktor lain yang sebelumnya menekan pasar adalah keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam evaluasi Februari dan Mei 2026, MSCI menghapus beberapa saham Indonesia dari indeks standar, termasuk BREN, DSSA, AMMN, TPIA, CUAN, dan AMRT. Prasetya mencatat bahwa bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets menyusut menjadi sekitar 0,45-0,50 persen dari sebelumnya sekitar 0,75 persen, yang memicu arus keluar dana sekitar USD1,5 miliar pada penutupan perdagangan 29 Mei.
Namun, Prasetya melihat peninjauan FTSE Russell pada 20 Juni mendatang berpotensi berdampak lebih terbatas karena dana kelolaan indeks tersebut tergolong lebih kecil dibanding MSCI. Ia memprediksi Indonesia masih akan mempertahankan status sebagai negara berkembang dalam evaluasi aksesibilitas pasar MSCI pada 18 Juni mendatang, dan tidak masuk dalam daftar pemantauan. Prasetya menambahkan bahwa evaluasi mendatang akan menjadi penilaian apakah reformasi yang telah dilakukan, seperti keterbukaan kepemilikan saham 1 persen, kerangka kerja High Sustainability Criteria (HSC), dan peta jalan peningkatan free float menjadi 15 persen, sudah cukup membuka peluang positif dari MSCI di masa mendatang. "Dengan risiko forced selling yang mulai mereda dan valuasi pasar yang masih 11 persen di bawah level minus dua standar deviasi, kami memperkirakan arus dana asing dapat kembali masuk apabila hasil evaluasi MSCI bersifat positif," tutupnya.