SMP Bumi Cendekia Yogyakarta memiliki cara unik untuk mengalihkan siswa dari penggunaan gawai yang berlebihan. Sekolah ini membiasakan siswa untuk berkumpul dengan teman, bermain bola, atau membaca buku. Kepala Sekolah SMP Bumi Cendekia, Wisnu Utomo, mengatakan bahwa sekolahnya tidak melarang siswa membawa gawai, tetapi mengatur pengoperasiannya dengan jelas.
Wisnu menegaskan bahwa laptop dan telepon genggam masih boleh dibawa ke sekolah, tetapi penggunaannya diatur. Misalnya, laptop hanya digunakan satu hari dalam sepekan, sedangkan telepon genggam digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran di bawah pengawasan guru. Wisnu juga mengatakan bahwa sebelumnya, siswa sering menggunakan laptop hampir setiap hari, sehingga konsentrasi belajar menjadi mudah terpecah.
Guru Bahasa Indonesia, Triana Ratnasari, mengatakan bahwa meskipun ada yang mengambil gawai, teknologi tetap menjadi bagian dari proses belajar. Siswa masih memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar, tetapi sekolah melatih mereka untuk mengolah informasi dan menyampaikan pendapatnya sendiri, bukan bergantung pada teknologi. Triana juga menambahkan bahwa siswa sudah mengenal kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), tetapi pemanfaatan AI menjadi lebih terarah sebagai pendukung pembelajaran.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan bahwa kebijakan penggunaan gawai bertujuan membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat sejak dini. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk menjaga kesehatan mental siswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Fajar menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan ini membutuhkan dukungan seluruh ekosistem pendidikan.