Yayasan Anand Ashram telah sukses menggelar Simposium Budaya dengan tema ‘Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern’ di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Surakarta. Acara ini diikuti oleh sekitar 600 peserta yang berasal dari berbagai usia, profesi, suku, dan kepercayaan, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pelestarian budaya.
Simposium ini semakin istimewa dengan kehadiran sejumlah tokoh penting, termasuk Wali Kota Surakarta, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta perwakilan dari berbagai institusi negara. Kehadiran mereka menegaskan dukungan terhadap upaya pelestarian nilai-nilai budaya. Acara ini juga menjadi puncak peringatan Hari Bhakti Ibu Pertiwi (HBIP) ke-22, yang merupakan momentum penting dalam sejarah budaya Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Iwan Susanto menekankan pentingnya transformasi diri di tengah perubahan dunia yang cepat akibat teknologi digital. Ia menyatakan bahwa kedamaian dalam diri akan melahirkan kepedulian dan kebersamaan, yang pada akhirnya membawa masyarakat menuju harmoni. Iwan juga menegaskan bahwa bakti kepada Ibu Pertiwi bukan hanya sekadar peringatan, tetapi merupakan pengabdian nyata kepada negeri dan seluruh ekosistem kehidupan.
Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, menyoroti bahwa di era modern ini, nilai-nilai kearifan lokal semakin tergerus oleh egoisme. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak terjebak dalam keegoisan yang mengabaikan empati sosial dan kelestarian alam. Wali Kota juga menyampaikan data mengenai krisis kesehatan mental di Solo, di mana dari 6.000 warga yang dilayani, sekitar 10% memerlukan penanganan lebih lanjut. Ia menargetkan bahwa pada tahun 2030, Solo akan menjadi Wellness City terbaik di Indonesia.
Respati berharap agar nilai-nilai luhur yang diangkat dalam simposium dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan lokal di Surakarta. Sesi Keynote Speech oleh Drs. KGPH Adp Panembahan Dipokusumo juga memberikan wawasan mendalam mengenai akar peradaban Jawa, mengajak audiens untuk membersihkan sifat negatif dalam diri demi membangun kebahagiaan bersama.
Di akhir simposium, Dian Martin menyimpulkan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, tantangan yang dihadapi manusia modern harus dijawab melalui kesadaran batin. Ia menekankan pentingnya mencapai kedamaian diri untuk memancarkan kepedulian bersama, yang pada akhirnya akan menciptakan harmoni global.