Mahasiswa baru yang terdaftar di perguruan tinggi harus siap menghadapi fase kehidupan baru yang penuh dengan perubahan. Beralih dari pendidikan di sekolah ke perkuliahan memerlukan penyesuaian diri yang signifikan, termasuk lingkungan baru, sistem belajar, dan orang-orang di sekitar. Mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri, termasuk dalam manajemen waktu sehari-hari.
Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psi., mengatakan bahwa tekanan yang dirasakan mahasiswa baru merupakan respons alami terhadap banyaknya perubahan yang terjadi dalam waktu bersamaan. Menurutnya, perubahan dari lingkungan sekolah ke lingkungan kampus membawa banyak penyesuaian, termasuk bertemu teman dari berbagai daerah dan berada di lingkungan yang jauh lebih besar.
Cahyo menekankan bahwa kondisi psikologis masing-masing individu dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan keluarga, pola pengasuhan, pengalaman hidup, kemampuan mengelola emosi, dan dukungan sosial. Ia juga menyarankan mahasiswa baru untuk terus mempraktikan rutinitas positif yang telah dijalankan sebelumnya, seperti berolahraga, melakukan hobi, beribadah, beristirahat yang cukup, dan berkomunikasi dengan keluarga serta orang-orang terdekat.
Menurut Cahyo, dukungan keluarga tetap diperlukan meskipun mahasiswa mulai belajar hidup mandiri. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri sambil tetap memberikan dukungan. Proses ini akan lebih optimal apabila kampus dan keluarga bersama-sama mendampingi mahasiswa menjalani masa transisinya.