Peristiwa tragis ini terjadi di wilayah Ceuta, Afrika Utara, yang merupakan bagian dari Spanyol. Sebanyak 141 imigran asal Maroko tewas dalam upaya menyeberang ke Spanyol, dengan 78 jenazah ditemukan di wilayah Spanyol dan 63 lainnya di Maroko. Sebagian besar korban tewas berusia antara 20 dan 30 tahun.
Krisis perbatasan ini dimulai pekan lalu ketika gelombang besar imigran dari Maroko memasuki wilayah Ceuta. Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande Marlaska, mengatakan bahwa sekitar 72.000 imigran memasuki wilayahnya sejak Kamis hingga Selasa, dengan sekitar 70.000 telah kembali ke Maroko.
Imigran tersebut menyeberang ke Spanyol melalui darat, menembus pos perbatasan, maupun berenang di laut untuk menghindari pagar perbatasan. Namun, banyak yang tidak berhasil dan meninggal karena tenggelam atau terinjak-injak dalam kerumunan. Spanyol mendesak pemerintahan negara-negara Eropa tidak mengkritik Maroko atas krisis perbatasan ini.
Krisis perbatasan ini telah memicu perhatian internasional dan menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan dan perlakuan terhadap imigran. Peristiwa ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh negara-negara Eropa dalam menghadapi arus imigran yang terus meningkat.