Ekonomi

Tren IPO Menurun, Hanya 12 Perusahaan Masih Antre di Bursa

Senin, 08 Juni 2026, 12:57 WIB 7 views 3 menit baca
Tren IPO Menurun, Hanya 12 Perusahaan Masih Antre di Bursa
Sebelumnya, BEI melaporkan terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Bagikan:

Jumlah perusahaan yang terdaftar dalam antrean untuk penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan menjadi 12 perusahaan per 5 Juni 2026. Sebelumnya, BEI mencatat ada 15 perusahaan yang sedang dalam proses pencatatan saham.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa hingga awal Juni, terdapat 12 perusahaan yang masih menjalani tahapan menuju pencatatan saham di bursa. "Sampai dengan 5 Juni 2026 terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ungkap Nyoman dalam keterangan resmi.

Pipeline IPO adalah daftar perusahaan yang sedang dalam proses untuk mencatatkan saham di bursa, yang mencakup penyusunan dokumen, pemeriksaan oleh regulator, penyempurnaan laporan keuangan, hingga memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum bisa menawarkan saham kepada publik. Nyoman menambahkan bahwa beberapa perusahaan dalam antrean masih menyelesaikan berbagai persyaratan sebelum melanjutkan proses penawaran umum.

Di antara 12 perusahaan tersebut, delapan di antaranya memiliki aset besar dengan nilai di atas Rp250 miliar, sementara empat perusahaan lainnya termasuk dalam kategori aset menengah dengan nilai antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Dari segi sektor usaha, antrean IPO saat ini didominasi oleh perusahaan di sektor consumer cyclicals dan healthcare, masing-masing dengan tiga perusahaan atau 25 persen dari total pipeline. Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals dan dua dari sektor infrastruktur, masing-masing menyumbang 16,7 persen.

Proses IPO saat ini juga dihadapkan pada tantangan dari volatilitas pasar keuangan, di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tekanan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya ketidakpastian global. Hal ini membuat perusahaan dan investor lebih berhati-hati dalam menentukan waktu pelaksanaan penawaran umum. Sebagai contoh, hingga 5 Juni 2026, hanya satu perusahaan yang berhasil mencatatkan sahamnya di BEI dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp0,30 triliun.

Perusahaan yang berhasil mencatatkan sahamnya adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 10 April 2026 dengan harga penawaran Rp168 per saham. Setelah pencatatan, saham perusahaan tersebut masuk dalam pemantauan bursa melalui mekanisme Full Call Auction (FCA) dan High Surveillance Category (HSC) akibat pergerakan harga yang menjadi perhatian regulator.

Selain IPO, aktivitas penggalangan dana di pasar modal juga berlangsung melalui instrumen lain. Hingga 5 Juni 2026, BEI mencatat telah menerbitkan 63 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dari 40 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp69,94 triliun. Sementara itu, terdapat 53 emisi dari 36 penerbit yang masih dalam pipeline obligasi, dengan sektor keuangan mendominasi.

Dalam aksi korporasi rights issue, hingga awal Juni 2026, tercatat empat perusahaan telah menerbitkan hak memesan efek terlebih dahulu dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun. Saat ini, masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti dan real estat yang berada dalam pipeline rights issue.

J

Penulis

Jarot Kusna

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait