Pada 22 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Donny Ermawan Taufanto dan Yos Sunitiyoso sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia. Pemerintah menyebut bahwa URI sebagai bagian dari desain besar pendidikan kebangsaan yang menghubungkan Sekolah Unggul Garuda, sepuluh perguruan tinggi baru, dan Lembaga Administrasi Negara untuk menyiapkan pemimpin pemerintahan serta BUMN.
URI disebut mengadopsi Institut national du service public atau INSP Perancis, namun pernyataan ini dapat menyesatkan karena URI dan INSP berbeda secara mendasar dalam level pendidikan, peserta, fungsi, tradisi kelembagaan, bahkan filosofi pembentukannya. INSP bukan universitas sarjana yang menerima lulusan SMA, melainkan sebuah sekolah profesional tingkat lanjut bagi calon pejabat tinggi.
Universitas yang baik tidak memproduksi keseragaman pikiran, melainkan mengajarkan manusia untuk berpikir jernih, bertindak etis, dan berani mempertanggungjawabkan kebebasannya. Oleh karena itu, idealnya URI diproyeksikan menjadi sekolah keberanian bagi Republik, bukan pabrik kepatuhan bagi kekuasaan.
URI akan berguna ketika melahirkan pikiran merdeka yang berpihak kepada bangsa. Birokrasi yang inovatif dan BUMN yang sehat tumbuh dari pengetahuan, keberanian moral, kebebasan akademik, kompetensi profesional, dan tanggung jawab kepada rakyat.