Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa risiko penyebaran wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sangat tinggi, terutama di wilayah timur negara itu yang tengah dilanda konflik dan krisis kemanusiaan. Menurut laporan WHO, hingga kini tercatat 82 kasus Ebola terkonfirmasi dengan tujuh kematian di Kongo.
WHO juga memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar, dengan hampir 750 kasus suspek dan 177 kematian suspek sejak korban pertama dilaporkan meninggal di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, pada 24 April lalu. Wabah Ebola kali ini menyebar di tengah situasi kompleks, mulai dari konflik bersenjata, perpindahan massal warga, fasilitas kesehatan yang kewalahan, hingga maraknya hoaks dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan.
"Risiko penyebaran yang lebih luas benar-benar nyata," kata Direktur Mercy Corps di Kongo, Rose Tchwenko. Rumah sakit di wilayah terdampak juga mulai penuh oleh pasien suspek Ebola. Manajer program darurat organisasi medis Médecins Sans Frontières (MSF), Trish Newport, mengatakan tim medis kesulitan mencari ruang isolasi kosong bagi pasien.
Penyebaran wabah juga diperparah tradisi pemakaman yang melibatkan sentuhan langsung terhadap jenazah, padahal virus Ebola sangat mudah menular melalui cairan tubuh. Ketegangan bahkan sempat pecah di Rwampara setelah warga membakar pusat perawatan Ebola, karena pihak berwenang menolak menyerahkan jenazah korban untuk dimakamkan keluarga.
Di tengah kondisi tersebut, WHO telah mengirim 22 staf internasional ke wilayah terdampak dan menggelontorkan dana darurat sebesar US$3,9 juta atau setara sekitar Rp69 miliar untuk penanganan wabah. WHO bersama Africa CDC juga mempercepat pengembangan vaksin dan terapi eksperimental untuk strain Bundibugyo, jenis Ebola yang kini menyebar di Kongo.