Wabah Ebola strain Bundibugyo telah menjadi perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai darurat kesehatan global. Penyakit ini disebabkan oleh virus Ebola strain Bundibugyo, yang pertama kali diidentifikasi di Distrik Bundibugyo, Uganda, pada tahun 2007-2008. Strain ini relatif jarang muncul dan belum memiliki vaksin atau terapi spesifik yang disetujui.
WHO mencatat bahwa wabah ini memicu kekhawatiran karena penyebaran lintas negara, meningkatnya jumlah kematian, dan dugaan penularan yang sempat tidak terdeteksi. Strain Bundibugyo ebolavirus menyebabkan penyakit infeksi virus berat yang dapat memicu demam, kerusakan organ, hingga perdarahan di dalam tubuh penderita. Sejumlah faktor yang membuat wabah ini dianggap mengkhawatirkan antara lain dugaan keterlambatan deteksi kasus, penyebaran di wilayah konflik dan pertambangan, hingga keterbatasan fasilitas kesehatan di sejumlah area terdampak.
Penularan Ebola strain Bundibugyo dapat terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita, serta lewat benda yang terkontaminasi cairan tubuh atau kontak dengan hewan yang terinfeksi. Gejala infeksi Ebola strain Bundibugyo umumnya mirip dengan Ebola lain, termasuk demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, muntah, diare, hingga perdarahan pada kasus berat. Deteksi dini dan isolasi pasien menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran virus.
WHO mengingatkan bahwa penggunaan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan dan pelacakan kontak erat juga menjadi bagian utama pengendalian wabah Ebola. Dengan demikian, upaya pengendalian wabah ini harus dilakukan dengan serius dan cepat untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.