Nasional

Waka MPR Ingatkan Akademisi untuk Tidak Terjebak dalam Budaya 'Kejar Tayang' Publikasi Ilmiah

Jumat, 31 Juli 2026, 23:11 WIB 69 views 2 menit baca
Ingatkan Akademisi soal Publikasi Ilmiah, Waka MPR: Jangan Kejar Tayang dan Asal Masuk
Ingatkan Akademisi soal Publikasi Ilmiah, Waka MPR: Jangan Kejar Tayang dan Asal Masuk
Bagikan:

Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, mengingatkan para akademisi untuk tidak terjebak dalam budaya 'kejar tayang' dalam penulisan publikasi ilmiah, yang dapat merusak integritas riset dan martabat ilmuwan Indonesia. Menurutnya, saat ini publikasi ilmiah telah bertransformasi menjadi komoditas.

"Memasukkan hasil penelitian ke jurnal internasional adalah keharusan administratif, tetapi kita harus memastikan bahwa jurnal yang dipilih bukan hanya sekadar memenuhi tenggat waktu," ungkap Lestari Moerdijat dalam pernyataannya pada Jumat (31/7).

Pernyataan ini disampaikan saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Publikasi Jurnal Internasional yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR di Kudus, Jawa Tengah. Acara tersebut dihadiri oleh 109 ilmuwan dan dosen dari berbagai universitas di wilayah Jawa Tengah.

Lestari Moerdijat juga menyoroti ketimpangan dalam ekosistem publikasi global antara negara maju dan berkembang, yang mencakup akses terbatas ke jurnal bereputasi dan kurangnya suara Indonesia dalam diskusi global. "Hal ini merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan generatif dalam penulisan dan penelaahan karya ilmiah. "Kita perlu mempertanyakan kesiapan kita untuk bersaing secara bermartabat dalam konteks ini," ujarnya.

Ia juga mencatat bahwa peningkatan jumlah publikasi ilmiah tidak selalu sejalan dengan peningkatan kualitas ilmu pengetahuan. "Banyak publikasi hanya bertujuan memenuhi persyaratan administratif, bukan untuk menantang keilmuan itu sendiri," jelasnya.

Lestari Moerdijat mengingatkan bahwa mengabaikan integritas dalam publikasi ilmiah dapat menghapus capaian yang telah dibangun selama bertahun-tahun. "Etika dalam penulisan harus diterapkan sejak awal, bukan setelah masalah muncul," tegasnya.

Ia mengajak peserta Bimtek untuk menjadikan acara tersebut sebagai titik awal untuk membangun kebiasaan baru dalam publikasi ilmiah. "Publikasi yang baik lahir dari proses yang dirawat, bukan dikejar menjelang tenggat waktu kenaikan jabatan," tutupnya. Bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh BRIN ini merupakan bentuk dukungan negara dalam meningkatkan kapasitas publikasi ilmiah di Indonesia.

A

Penulis

Agus Wigati

Penulis di Jagad Info

Sumber: jpnn.com jpnn.com

Berita Terkait