Kesehatan

Bahaya Lemak Perut: Penyebab Diabetes dan Penyakit Jantung

Jumat, 14 Agustus 2026, 20:20 WIB 64 views 2 menit baca
Ilustrasi. Lemak perut bisa memicu berbagai masalah kesehatan. (iStock/Staras)
Ilustrasi. Lemak perut bisa memicu berbagai masalah kesehatan. (iStock/Staras)
Bagikan:

Penumpukan lemak di rongga perut tidak hanya membuat lingkar pinggang bertambah, tetapi juga dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PB Perkeni) Em Yunir menjelaskan bahwa lemak di rongga perut memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan lemak di bagian tubuh lainnya.

Lemak di rongga perut berkaitan dengan berbagai proses metabolik dan dapat menghasilkan hormon yang memengaruhi kondisi tubuh. Oleh karena itu, obesitas tidak cukup dinilai hanya berdasarkan angka berat badan. Yunir menekankan bahwa lemak di rongga perut lebih berbahaya daripada lemak di tempat lain karena mengandung banyak hormon lain.

Salah satu kondisi yang berkaitan dengan obesitas adalah resistensi insulin, yang dikenal sebagai salah satu faktor risiko diabetes. Penumpukan sel lemak, terutama di area rongga perut, dapat meningkatkan risiko diabetes, gangguan kolesterol, hipertensi, hingga penyakit jantung. Risiko tersebut dapat semakin kompleks ketika beberapa gangguan metabolik muncul secara bersamaan, terutama seiring bertambahnya usia.

Yunir mengingatkan bahwa berat badan bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kesehatan. Pemeriksaan komposisi tubuh diperlukan untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih menyeluruh. Pemeriksaan tersebut dapat membantu melihat jumlah lemak sekaligus massa otot. Selain itu, masyarakat juga dapat memperhatikan lingkar pinggang sebagai salah satu indikator penumpukan lemak di perut.

Yunir mendorong masyarakat untuk memulai deteksi dini sejak usia muda. Perubahan berat badan, bentuk tubuh, dan lingkar perut perlu diperhatikan secara berkala. Deteksi dini penting agar penumpukan lemak berlebih dapat diketahui sebelum berkembang menjadi berbagai gangguan metabolik. Upaya tersebut juga perlu dibarengi dengan perubahan pola makan dan gaya hidup.

J

Penulis

Jarot Kusna

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait