Kesehatan

Bahaya Polusi Udara: Studi Baru Menemukan Risiko Kesehatan Jantung

Senin, 13 Juli 2026, 21:15 WIB 62 views 2 menit baca
Ilustrasi. Hasil studi menemukan bahwa meskipun memiliki lebel baik, tapi udara yang 'kotor' tetap berbahaya untuk jantung. (Istockphoto/SrdjanPav)
Ilustrasi. Hasil studi menemukan bahwa meskipun memiliki lebel baik, tapi udara yang 'kotor' tetap berbahaya untuk jantung. (Istockphoto/SrdjanPav)
Bagikan:

Penelitian yang dilakukan oleh University of Mississippi menemukan bahwa paparan partikel halus PM2.5 pada tingkat yang masih memenuhi standar regulasi dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke. Penelitian ini menganalisis 95 penelitian dari berbagai negara yang meneliti dampak PM2.5 pada konsentrasi di bawah ambang batas tahunan yang ditetapkan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 67 persen studi menunjukkan hubungan yang signifikan antara paparan PM2.5 tingkat rendah dengan gangguan kardiovaskular. Bahkan, pada penelitian yang secara khusus mengamati kejadian berat seperti stroke dan kematian akibat penyakit jantung, sebanyak 76 persen menemukan kaitan yang bermakna.

Penulis utama studi, Courtney Roper, menilai temuan tersebut menjadi sinyal bahwa standar kualitas udara saat ini perlu dievaluasi ulang. "Jika regulasi benar-benar berfokus pada perlindungan kesehatan manusia, hasil tinjauan kami menunjukkan batas tersebut seharusnya diturunkan karena kami masih melihat dampak terhadap kesehatan jantung," ujar Roper.

Penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama. Lansia, anak-anak, serta mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi kelompok yang paling rentan mengalami dampak kesehatan akibat paparan PM2.5, meski kadarnya tergolong rendah.

Temuan ini dinilai sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya. Dokter anak sekaligus epidemiolog dari Boston College, Philip Landrigan, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan risiko kesehatan akibat polusi udara sebenarnya masih dapat terjadi bahkan di bawah ambang batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

A

Penulis

Adhe Dharma

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait