Intoleransi laktosa adalah kondisi yang umum terjadi di Indonesia, dengan prevalensi yang cukup tinggi pada anak-anak dan dewasa. Menurut Ahli Nutrisi Vrischika Chabella, intoleransi laktosa di Indonesia banyak yang tidak terdeteksi karena banyaknya makanan olahan yang mengandung laktosa.
Vrischika menjelaskan bahwa intoleransi laktosa memiliki spektrum yang luas, dan efeknya pada tiap orang bisa berbeda. Gejala intoleransi laktosa dapat berupa perut kembung, diare, dan jerawat. Untuk mendeteksi intoleransi laktosa, Vrischika menyarankan untuk menghindari makanan dan minuman lain yang dapat memicu alergen, kemudian minum susu dan melihat bagaimana reaksi tubuh.
Reaksi tubuh dapat beragam, mulai dari perut kembung yang muncul dalam 10 menit pertama setelah minum susu, hingga diare dan jerawat yang muncul dalam jangka panjang. Vrischika juga menyarankan untuk mencoba minum susu dengan takaran sedikit dahulu untuk mengetes seberapa banyak volume susu yang dapat ditoleransi oleh tubuh.
Bagi penderita intoleransi laktosa, masih ada beberapa pilihan yang dapat dinikmati, seperti susu nabati dan produk susu bebas laktosa. Selain itu, susu pasteurisasi dan yogurt juga lebih mudah ditoleransi dibandingkan dengan susu UHT. Vrischika menjelaskan bahwa proses pengolahan susu UHT dengan suhu pemanasan tinggi dapat membuat struktur susu dan proteinnya berubah, sehingga karakteristiknya menjauh dari susu aslinya.