Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Em Yunir, sekitar 70 persen lebih pasien diabetes tidak terdiagnosis, sehingga mereka tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini hingga akhirnya terdeteksi saat berobat penyakit lain atau masuk kondisi gawat darurat.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi diabetes di Tanah Air terus meningkat. Saat ini diperkirakan satu dari sepuluh penduduk Indonesia hidup dengan diabetes. Sementara itu, International Diabetes Federation (IDF) mencatat jumlah penyandang diabetes di Indonesia telah melampaui 20 juta jiwa dan diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 30 juta orang pada 2045.
Yunir mengibaratkan proses kerusakan organ tubuh akibat diabetes yang tidak terkendali seperti argometer taksi yang terus bergerak semakin cepat seiring tingginya kadar gula darah. Tak hanya itu, diabetes juga kerap disertai faktor risiko lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, hingga kebiasaan merokok.
Kombinasi kondisi tersebut dapat memicu berbagai komplikasi berat, mulai dari penyakit jantung, gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah, hingga kerusakan retina mata atau retinopati diabetik. Komplikasi tersebut bukan hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tetapi juga meningkatkan beban sosial dan ekonomi keluarga jika tidak ditangani sejak dini.
Untuk menekan risiko kebutaan akibat diabetes, Kementerian Kesehatan bersama UGM dan Roche Indonesia memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan deteksi dini retinopati diabetik. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah akan memperluas layanan skrining retina di fasilitas kesehatan primer.