Kesehatan

Ibu Hamil Pecahkan Rekor Hyrox, Dokter Ingatkan Pentingnya Konsultasi

Selasa, 04 Agustus 2026, 04:36 WIB 55 views 2 menit baca
Ilustrasi. Dokter kandungan mengingatkan agar ibu hamil tidak asal meniru untuk ikut kompetisi Hyrox. Begini penjelasannya. (iStockphoto/miljko)
Ilustrasi. Dokter kandungan mengingatkan agar ibu hamil tidak asal meniru untuk ikut kompetisi Hyrox. Begini penjelasannya. (iStockphoto/miljko)
Bagikan:

Baru-baru ini, seorang ibu hamil bernama Nabila Qadrianty menjadi sorotan setelah mengikuti kompetisi kebugaran Hyrox saat usia kehamilannya memasuki 24 minggu. Aksinya ramai dibicarakan di media sosial lantaran Hyrox dikenal sebagai kompetisi yang menggabungkan lari dengan berbagai tantangan kekuatan dan daya tahan fisik.

Nabila mengikuti Hyrox Osaka pada 30 Januari 2026 di kategori Women's Open (35-39 tahun). Ia berhasil menyelesaikan perlombaan dalam waktu 2 jam 21 menit 37 detik, menempati peringkat ke-599 secara keseluruhan dan posisi ke-96 di kelompok usianya. Pencapaian tersebut juga tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai wanita hamil pertama yang mengikuti kompetisi Hyrox pada usia kehamilan 24 minggu.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Brawijaya Hospital, Niken P. Pangastuti menjelaskan bahwa ibu hamil pada dasarnya tetap dianjurkan aktif bergerak. Aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang bahkan bermanfaat untuk menjaga kesehatan ibu dan janin. Namun, bukan berarti semua ibu hamil bisa langsung menjalani olahraga berat seperti Hyrox.

Menurut Niken, kondisi setiap kehamilan berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan. Ia menambahkan bahwa selama ibu hamil rutin menjalani pemeriksaan kehamilan dan kondisi janin maupun ibunya dinyatakan baik, aktivitas fisik masih dapat dilakukan sesuai kemampuan tubuh. Namun, ibu hamil yang ingin tetap berolahraga disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk memastikan jenis dan intensitas latihan sesuai dengan kondisi kehamilannya.

Niken juga mengingatkan bahwa olahraga berat saat hamil tetap memiliki risiko, terutama bila dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu maupun janin. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya peluang persalinan prematur. Kelelahan berlebihan dapat memicu pelepasan hormon tertentu yang berpotensi menyebabkan kontraksi.

D

Penulis

Dinda Mughni

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait