PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) sedang mempersiapkan strategi pertumbuhan baru untuk mendukung ekspansi bisnisnya. Berbeda dengan banyak pengembang yang masih mengandalkan penjualan properti, INPP menempatkan pendapatan berulang sebagai fondasi utama operasionalnya. Perseroan menargetkan agar kontribusi pendapatan berulang tetap di atas 75 persen dari total pendapatan hingga tahun 2026.
Strategi ini menjadi salah satu kunci bagi INPP untuk menjaga pertumbuhan dan mendukung pengembangan proyek-proyek baru. Presiden Direktur INPP, Andri Hadi, menjelaskan bahwa perusahaan telah berhasil mempertahankan tren pertumbuhan selama lima tahun terakhir melalui pengelolaan aset yang disiplin dan pengembangan proyek yang selektif. Dia menekankan pentingnya membangun kepercayaan dan pengalaman, serta optimisme terhadap pertumbuhan berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan.
Andri juga menyatakan bahwa pendapatan berulang yang berasal dari hotel, pusat perbelanjaan, dan aset komersial lainnya merupakan fondasi penting untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah dinamika industri properti. Kinerja operasional INPP menunjukkan hasil positif, dengan pendapatan mencapai Rp1,74 triliun pada tahun 2025, tumbuh 32,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA juga meningkat 24,6 persen menjadi Rp680 miliar, mencerminkan peningkatan kualitas pendapatan dan efisiensi operasional.
Memasuki tahun 2026, tren pertumbuhan berlanjut dengan pendapatan pada kuartal pertama mencapai Rp374,3 miliar, meningkat 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. EBITDA pada kuartal I juga tumbuh 20 persen menjadi Rp100,67 miliar. Manajemen menilai bahwa kinerja ini menunjukkan bahwa model bisnis berbasis pendapatan berulang mampu memberikan stabilitas arus kas serta mendukung kemampuan perusahaan untuk terus berekspansi.
Selain memanfaatkan aset yang sudah beroperasi, INPP juga mulai mendapatkan kontribusi dari proyek-proyek baru. Pada tahun 2025, perusahaan meresmikan 23 Semarang Shopping Center yang merupakan bagian dari kompleks terpadu 23 Semarang. Proyek ini menambah portofolio aset komersial dan memperluas sumber pendapatan berulang. INPP juga sedang mempersiapkan Plaza 88 Balikpapan sebagai proyek strategis yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru dalam beberapa tahun ke depan.
Andri menekankan bahwa ekspansi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kualitas aset dan potensi pertumbuhan jangka panjang, memastikan setiap proyek memiliki nilai tambah yang jelas. Di tengah agenda ekspansi, posisi keuangan INPP tetap terjaga dengan peringkat idAAA(cg) dari PEFINDO untuk Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2025 senilai Rp500 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas bersih tercatat sebesar 0,21 kali pada akhir 2025, memberikan ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi tanpa tekanan utang yang berlebihan.
INPP juga memperkuat kemitraan strategis dengan investor internasional, termasuk kerja sama dengan Hankyu Hanshin Properties Corp dari Jepang pada tahun 2025, yang membuka peluang untuk memperluas pengembangan proyek dan meningkatkan standar pengelolaan aset. Meskipun fundamental perusahaan menunjukkan pertumbuhan, pergerakan saham INPP cenderung terbatas, dengan penutupan saham pada harga Rp755 per lembar pada 18 Juni 2026. Meskipun demikian, dalam enam bulan terakhir, saham INPP mencatatkan kenaikan sekitar 10,22 persen, dan dalam tiga tahun terakhir, sahamnya naik 64,13 persen, menunjukkan apresiasi jangka panjang yang positif.
Ke depan, fokus utama bagi investor adalah apakah strategi pendapatan berulang yang mendominasi lebih dari 75 persen total pendapatan dapat terus menjadi mesin pertumbuhan dan mendukung ekspansi proyek-proyek baru yang sedang disiapkan oleh perusahaan.