Ekonomi

Investor Harus Waspada Terhadap Pergerakan Rupiah Setelah Kenaikan IHSG

Rabu, 10 Juni 2026, 13:09 WIB 11 views 3 menit baca
Investor Harus Waspada Terhadap Pergerakan Rupiah Setelah Kenaikan IHSG
Stockbit mengingatkan investor untuk memantau rupiah setelah IHSG melonjak 7,6 persen menyusul kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.
Bagikan:

Penguatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia tidak menjamin bahwa sinyal bahaya telah berlalu. Meskipun lonjakan pasar memberikan harapan bagi investor, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi faktor penentu apakah tren positif ini dapat berlanjut atau hanya sekadar euforia sementara.

Stockbit Sekuritas mengingatkan pelaku pasar untuk memperhatikan arah nilai tukar rupiah, terutama setelah Bank Indonesia mengambil langkah agresif untuk menahan tekanan di pasar keuangan. Dalam risetnya, Stockbit mencatat bahwa investor perlu memantau pergerakan rupiah, mengingat sebelumnya nilai tukar ini hanya sempat menguat sesaat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada 20 Mei 2026, sebelum akhirnya kembali melemah.

Peringatan ini muncul setelah Bank Indonesia secara mendadak mengumumkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa, 9 Juni 2026. Keputusan ini mengejutkan pasar karena diumumkan di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur bulanan yang dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni 2026. Kenaikan ini merupakan yang kedua dalam waktu kurang dari sebulan setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei lalu.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respons terhadap pelemahan rupiah yang terjadi lebih cepat dan lebih dalam dari yang diperkirakan. Dalam penjelasannya, Bank Indonesia menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan langkah pre-emptive untuk mendukung nilai tukar rupiah yang melemah lebih dari yang diperkirakan sejak Rapat Dewan Gubernur pada Mei 2026.

Tekanan terhadap rupiah tidak dapat dianggap sepele. Pada Senin, 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah ditutup di level terendah sepanjang sejarah, yaitu Rp18.178 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sekitar 3,2 persen sejak rapat BI bulan Mei dan penurunan 8,2 persen sejak awal tahun. Hal ini membuat rupiah masuk dalam jajaran mata uang dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, sehingga Bank Indonesia merasa perlu mengambil langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar.

Respons pasar terhadap kebijakan ini cukup signifikan. Yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun melonjak 14 basis poin ke level 7,4 persen, tertinggi sejak November 2022. Di sisi lain, rupiah berhasil menguat 0,65 persen ke level Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Selasa. Yang menarik perhatian adalah pergerakan IHSG, yang melesat 7,6 persen dalam sehari, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak Maret 2020 ketika pasar mulai pulih dari kepanikan awal pandemi Covid-19.

Menurut Stockbit, penguatan IHSG terjadi hampir di seluruh sektor pasar, dengan 678 saham mengalami kenaikan harga sementara hanya 90 saham yang mengalami penurunan. Riset tersebut menilai bahwa pasar menyambut positif langkah regulator yang mulai mengambil tindakan agresif untuk menjaga stabilitas pasar keuangan setelah tekanan yang berkepanjangan sepanjang tahun ini. Sebelum reli pada Selasa, IHSG telah terkoreksi sekitar 38 persen sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan 8 Juni 2026.

Selain faktor kebijakan moneter, pasar juga memperhatikan perkembangan lain dari sektor keuangan. Bloomberg Technoz melaporkan bahwa Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menggelar pertemuan dengan perwakilan Danantara, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BPJS, dan perusahaan asuransi BUMN untuk membahas rencana buyback saham perbankan Himbara. Namun, Stockbit mengingatkan bahwa ujian sebenarnya belum berakhir. Jika penguatan rupiah dapat bertahan dalam beberapa hari ke depan, optimisme pasar berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika mata uang domestik kembali melemah seperti setelah kenaikan suku bunga pada Mei lalu, reli IHSG kali ini dapat menghadapi tantangan baru.

A

Penulis

Ananta Prana

Penulis di Jagad Info

Berita Terkait