Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat bahwa ada 2,9 juta anak yang tidak sekolah di Indonesia. Data ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, dalam peluncuran Aktivasi Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu di Jakarta.
Mayoritas anak-anak yang tidak sekolah berasal dari jenjang sekolah menengah, khususnya mereka yang berusia 16-18 tahun. Banyak dari mereka yang telah lulus sekolah menengah pertama namun tidak melanjutkan ke tingkat menengah atas. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah ada yang berasal dari kelompok dengan kebutuhan khusus, disabilitas, dan dari kelompok yang tidak mampu secara ekonomi.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah meluncurkan Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) untuk jenjang pendidikan menengah. Program ini ditujukan bagi anak-anak yang tidak sekolah (ATS) dan dirancang sebagai paradigma baru layanan pendidikan yang berpusat pada kebutuhan anak. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa keberhasilan SPMB PJJ tidak hanya diukur dari jumlah pendaftar, tetapi juga dari keberlanjutan belajar peserta.
Program SPMB PJJ akan dilaksanakan di 32 provinsi dengan melibatkan 132 sekolah sebagai bagian dari gerakan bersama memastikan semakin banyak anak Indonesia kembali aktif belajar dan menuntaskan pendidikannya. Dengan demikian, diharapkan jumlah anak tidak sekolah di Indonesia dapat berkurang dan lebih banyak anak dapat menikmati pendidikan yang berkualitas.