Peneliti Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Martaria Rizky Rinaldi, mengatakan bahwa kehadiran AI memang mempercepat pekerjaan penelitian, namun teknologi ini sama sekali tidak mengambil alih tanggung jawab ilmiah dari seorang peneliti. Menurut Martaria, AI akan membantu para peneliti dalam melakukan penelitian, terutama dalam pemahaman pustaka dan penulisan.
AI dapat menyaring informasi awal dan memberi ringkasan cepat, sehingga peneliti tidak perlu lagi membaca keseluruhan artikel secara manual untuk menemukan esensi tulisan. Selain itu, AI juga dapat mengevaluasi struktur dan tingkat keterbacaan sejak awal serta memberikan umpan balik langsung saat naskah dikembangkan.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Magelang, Muji Setiyo, menilai bahwa kehadiran AI bukan untuk mengganti isi pikiran, tetapi justru membantu peneliti. Meski demikian, sebagai peneliti tetap perlu melakukan verifikasi terhadap hasil yang diberikan oleh AI. "AI hadir bukan untuk mengganti isi pikiran peneliti, melainkan mengefisienkan pekerjaan teknis. Namun, peneliti tidak boleh lupa untuk selalu melakukan human verification atau verifikasi fakta secara manual," ucap Muji.
Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft dan Carnegie Mellon University menunjukkan bahwa semakin besar kepercayaan dan kebergantungan terhadap alat bantu AI, semakin sedikit pula pemikiran kritis yang diterapkan terhadap hasil yang diberikan oleh AI. Oleh karena itu, penting untuk tetap melakukan verifikasi dan evaluasi terhadap hasil yang diberikan oleh AI.