Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat bahwa jumlah mahasiswa yang mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif masih relatif sedikit. Menurut Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, dari total peserta UKBI Adaptif tahun 2025, sebanyak 84,9 persen adalah pelajar, sedangkan peserta mahasiswa baru hanya mencapai 10,3 persen atau 33.080 peserta.
Hafidz Muksin menekankan bahwa hal ini perlu menjadi perhatian bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia di kalangan mahasiswa. "Hal ini perlu menjadi perhatian perguruan tinggi agar kemahiran berbahasa Indonesia menjadi bagian penting dalam peningkatan literasi mahasiswa," katanya.
UKBI Adaptif telah diikuti oleh 321.383 peserta dari 38 provinsi dan 493 kabupaten atau kota. Selain itu, partisipasi juga datang dari 243 warga negara asing yang berasal dari 51 negara. Hasilnya, pemetaan tahun 2025 menunjukkan Angka Kemahiran Berbahasa Indonesia secara nasional berada pada skor 64,23.
Hafidz Muksin menegaskan bahwa hasil UKBI tidak sekadar menjadi data statistik, tetapi instrumen penting untuk memahami kondisi kemahiran berbahasa masyarakat di berbagai jenjang pendidikan, profesi, dan wilayah. "Data kemahiran berbahasa Indonesia merupakan informasi penting terkait tingkat kemahiran berbahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan, kalangan profesional, dan wilayah tertentu," katanya.
Kemendikdasmen juga berkomitmen untuk memperluas cakupan UKBI dan memastikan layanan kebahasaan dapat diakses secara inklusif. Salah satunya melalui pengembangan UKBI Adaptif Disabilitas Rungu yang dirancang untuk memberikan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas rungu dalam mengukur kemahiran berbahasa Indonesia.