Menurut Albert Oktavian, Ahli Perencana dan Ketua Satuan Pengawasan Internal (SPI) LLDIKTI Wilayah X, banyak perguruan tinggi di wilayahnya tidak memiliki mahasiswa disabilitas. Hal ini menjadi tanda bahwa sebenarnya perguruan tinggi belum mudah diakses oleh para penyandang disabilitas.
Albert menjelaskan bahwa mayoritas perguruan tinggi di Wilayah X, khususnya di Sumatera Barat dan Jambi, menyampaikan bahwa mereka tidak memiliki mahasiswa penyandang disabilitas. Namun, kondisi ini justru perlu dibaca lebih kritis, karena bisa jadi menunjukkan bahwa sistem pendidikan tinggi kita belum sepenuhnya aksesibel.
Di sisi lain, Albert juga menyatakan bahwa masih belum banyak perguruan tinggi yang memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD), fasilitas yang aksesibel masih terbatas, dan layanan pembelajaran yang adaptif belum tersedia secara optimal. Bahkan ketika ULD sudah ada, layanan tersebut belum selalu terbangun sebagai sistem yang utuh.
Sebagai salah satu perguruan tinggi di wilayah X, Universitas Andalas (Unand) menekankan pentingnya inklusi bagi disabilitas. Sekretaris Unand, Aidinil Zetra, menegaskan bahwa inklusi disabilitas merupakan bagian dari keadilan yang harus diwujudkan di perguruan tinggi dan inklusi bukanlah belas kasihan, tetapi keadilan bagi semua masyarakat.
Unand bekerja sama dengan Pijar Foundation untuk mendorong pendidikan tinggi yang lebih inklusif, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas. Kerja sama ini menjadi langkah awal untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, pengembangan ruang dialog berbasis kampus, serta pelibatan mahasiswa dan pemangku kepentingan pendidikan tinggi dalam perumusan gagasan kebijakan yang lebih berpihak pada keberagaman kebutuhan peserta mahasiswa.
Kepala Kebijakan Publik Pijar Foundation, Anthony Marwan Dermawan, mengatakan bahwa inklusi disabilitas dalam pendidikan tinggi tidak hanya berupa penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga menuntut perubahan cara institusi, mendengarkan, merancang layanan, dan mengambil keputusan. "Kampus inklusif bukan tentang hanya akses fisik, tapi tentang bagaimana mahasiswa penyandang disabilitas dapat belajar, berpartisipasi, dan menjadi bagian utuh dari kehidupan akademik di pendidikan tinggi," jelas Anthony.