Sebagian orang percaya bahwa kecerdasan anak diturunkan dari orang tua. Hal ini memang benar, tetapi dokter spesialis anak Kanya Ayu mengingatkan bahwa faktor genetik bukan satu-satunya penentu kecerdasan anak. Menurutnya, kecerdasan anak biasanya diturunkan dari ibunya, tetapi faktor lain seperti nutrisi, pengelolaan emosi, dan stimulasi juga sangat penting.
Dokter Kanya menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama pembentukan kecerdasan anak, yaitu asah, asih, dan asuh. Asah berarti nutrisi yang cukup untuk anak, termasuk protein, mikronutrien, zat besi, dan DHA. Asih berarti pengelolaan emosi, di mana orang tua mengajari anak untuk menerima kasih, menghadapi stres, dan mengatasi masalah. Asuh berarti stimulasi, di mana anak diberikan kesempatan untuk bermain, belajar, dan berkembang.
Dokter Kanya menekankan bahwa ketiga faktor tersebut harus berjalan seimbang agar kecerdasan anak optimal. "Kemudian 'asuh'-nya itu adalah stimulasi. Percuma kalau ibunya pintar terus anak dikasih makan daging, tapi cuma dikasih makan, nggak diajak ngomong nggak pernah diajarin bermain cilukba dan seterusnya semuanya harus balance," imbuhnya.
Dengan demikian, orang tua dapat memahami bahwa kecerdasan anak tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik, tetapi juga oleh faktor lain yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan. Dengan memberikan nutrisi yang cukup, mengelola emosi anak, dan memberikan stimulasi yang tepat, orang tua dapat membantu anak mereka berkembang menjadi anak yang cerdas dan seimbang.