Sejarah telah membuktikan bahwa universitas yang tidak beradaptasi dengan perubahan zaman akan punah. Kampus yang kaku dan tidak mau berubah akan digilas oleh zaman, sedangkan kampus yang lentur dan mau berubah akan menemukan bentuk baru dan terus hidup.
Pertanyaan untuk kampus Indonesia hari ini bukan lagi "Apakah kampus akan berubah?", tapi "Apakah kampus masih punya waktu untuk berubah, atau sedang sekarat sambil tersenyum di depan borang akreditasi?" Kampus di Indonesia saat ini lebih fokus pada peringkat dan akreditasi daripada pada kualitas pendidikan dan penelitian.
Gejala "over-mature" telah menjadi sebuah fenomena di kampus-kampus Indonesia, di mana birokrasi berlapis, reaksi lambat, dan energi yang habis untuk mengurus dirinya sendiri. Kampus-kampus ini lebih peduli dengan peringkat dan akreditasi daripada dengan kualitas pendidikan dan penelitian.
Menurut Geoff Mulgan, universitas abad ini harus turun ke jalan, menjawab kemiskinan, krisis iklim, dan ketimpangan digital. Sejarah mencatat, guncangan besar seperti dua perang dunia dan COVID-19 telah memaksa universitas harus membuang norma lama demi bertahan.
Indonesia punya momentum serupa saat pandemi, tapi buru-buru kembali ke "normal" begitu tekanan mereda, seolah krisis hanya gangguan sementara, bukan sinyal untuk berubah permanen. Riset dosen berhenti di jurnal demi poin akreditasi, bukan menuntaskan masalah UMKM di halaman kampus sendiri.
Kampus Indonesia kini berdiri di persimpangan yang menentukan nasib satu generasi. Ke kiri, jalan aman: birokratis, penuh laporan, penuh piagam akreditasi, menuju museum yang dikagumi tapi tak lagi dikunjungi. Ke kanan, jalan tak nyaman: penuh eksperimen, penuh risiko, tapi menuju masa depan yang hidup.