Ruang kelas di sekolah-sekolah saat ini sedang menghadapi tantangan kultural yang senyap namun destruktif. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, lembaga kajian kesehatan masyarakat Health Collaborative Center (HCC) meluncurkan program "Cek Teman Sebelah 3.0" di beberapa sekolah di Jakarta.
Program ini dikembangkan sebagai sebuah eksperimen sosial yang dirancang untuk melatih siswa agar lebih peka, aktif, dan peduli terhadap perubahan kondisi emosional serta psikososial teman-teman di sekitar mereka. Pendekatan yang digunakan dalam "Cek Teman Sebelah 3.0" terbilang sederhana namun memiliki landasan ilmiah yang kokoh di tingkat global. Salah satu metode yang diadaptasi adalah tootling, yaitu melaporkan kebaikan teman dalam bentuk apa pun setiap hari.
Menurut Pendiri dan Ketua HCC, Ray Wagiu Basrowi, orientasi pembentukan empati remaja tidak harus dimulai dari konsep yang rumit, melainkan bisa diwujudkan melalui pembiasaan kecil sehari-hari, yakni fokus pada kebaikan teman. Program ini telah diimplementasikan di empat sekolah di wilayah binaan Puskesmas Ciracas, Jakarta Timur, yaitu SMKN 68, SMK Bina Dharma, MAN 15, dan MAN 24.
Ke depan, HCC berkomitmen untuk memperluas jangkauan program "Cek Teman Sebelah" ke lebih banyak sekolah dan komunitas remaja di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu memicu sebuah gerakan promotif kesehatan mental berbasis empati sosial yang mandiri, aman, dan manusiawi di lingkungan pendidikan nasional.