Menguap merupakan reaksi yang sangat umum dan hampir semua orang sering melakukannya, bahkan hewan juga. Dalam sehari, manusia bisa menguap hingga sekitar 20 kali. Menariknya, menguap tidak selalu muncul karena mengantuk atau bosan. Kadang, kita justru ikut menguap setelah melihat orang lain melakukannya.
Kebiasaan ikut menguap dikenal sebagai contagious yawning atau menguap yang menular. Respons ini terasa otomatis, seperti refleks yang muncul tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Namun, sejumlah penelitian menjelaskan, fenomena ini tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Anak-anak biasanya baru mulai menunjukkan perilaku ini saat berusia sekitar empat atau lima tahun.
Pada usia tersebut, kemampuan empati anak mulai berkembang lebih baik. Oleh karena itu, melihat orang menguap dapat memicu dorongan untuk melakukan hal yang sama. James Giordano, ilmuwan saraf dari Georgetown University, menjelaskan hal ini mungkin berkaitan dengan social mirroring. Ini adalah kecenderungan organisme untuk meniru tindakan orang lain.
Perilaku yang menular tak hanya menguap. Ia mencontohkan hal lainnya, seperti tertawa, hingga menyilangkan kaki. Fenomena ini juga berhubungan dengan ikatan sosial. Saat seseorang tersenyum kepada kita, kita sering kali spontan membalas senyum tersebut. Hal yang sama terjadi pada menguap. Orang yang memiliki empati lebih tinggi cenderung lebih mudah mengalami social mirroring ini.
Menguap umumnya tidak berbahaya. Akan tetapi, jika terjadi terlalu sering dan tanpa alasan yang jelas, kondisi ini perlu diperhatikan. Ada beberapa gangguan kesehatan yang bisa menyebabkan seseorang menguap berlebihan. Oleh karena itu, kalau Anda atau seseorang yang dikenal mengalami menguap berlebihan tanpa penyebab yang jelas, sebaiknya segera berkonsultasi ke tenaga medis.